Low Profile High Profit

Ditulis pada 16 September 2009 oleh Aqessa Aninda

Ketika saya berjalan-jalan ke mall-mall besar seperti PIM atau Senayan City saya melihat pemandangan yang tidak berbeda. Para remaja (terutama perempuan), nampaknya berpenampilan hampir seragam semua. Celana pendek atau skinny jeans, kaos, vest, gladiator atau flats, dengan tas tas milik ibunya atau kakaknya seperti Long Champ, LV, Channel, Gucci. Tentu lengkap dengan gadget-gadget andalan mereka, blackberry, iPhone, iPod, macbook, DSLR, lomo, digicam, polaroid.

Terkadang saya miris melihatnya. Ini adalah salah satu pola gaya hidup konsumtif. Ditambah lagi (masih) memakai produk milik luar negeri. Saya akui, saya juga masih seperti itu. Saya tahu, produk Indonesia kualitasnya memang belum sebagus produk luar negeri. Coba kita lihat, mana mau kita pakai tas merk Elizabeth kan? Atau sepatu merk Yongki Komaladi atau Andre Valentino? Saya tahu, memang modelnya kurang begitu menarik. Tapi, kenapa kita tidak mencoba menjadi produktif? Kalian yang suka fashion, rata-rata orang mampu. Kenapa tidak dikembangkan bakat kalian? Kalian suka model sepatu apa, kenapa tidak mencoba kreatif, bikin sendiri? Selain harganya lebih murah, tidakkah kalian bangga kalau kalian satu-satunya orang yang memiliki sepatu seperti itu? Tidak adakah remaja sekarang yang beranggapan untuk “low profile high profit”? Malah kalau kita lihat di luar sana, sebenarnya produk Indonesia yang bagus. Seperti teman saya, Kanya, yang memulai bisnis online shopnya menjual tas-tas cantik, tanpa label desainer terkenal. Tapi saya melihatnya tidak murahan. Atau seperti yang sekarang sedang marak, batik dan baju barong, ternyata warisan budaya kita bisa menjadi unique juga bukan? Kemarin-kemarin saya ngidam tas-tas dari serabut kayu yang dalamnya diserut dengan kain, sampai menitip teman yang sedang ke Jogja. Itu tas khas bikinan Jawa lhooo, dan lucu banget menurut saya. Tidakkah kalian penikmat fashion ingin punya clothing line sendiri? Ayo bikin produk Indonesia, dengan nama kalian! Bukankah lebih bagus ya? Apalagi kalau etnik dibentuk seperti modern gitu. Siapa tahu nantinya bisa punya tambahan uang jajan kan?

Saya melihat teman-teman adik saya yang notabenenya masih SMP. Bayangkan, mereka bawa-bawa DSLR atau lomo ke sekolah. Pertanyaannya, buat apa? Tidak ada yang melarang kok menyukai fotografi. Tapi, tidakkah sebaiknya kita melihat apa yang kita butuhkan? Misalnya, ntuk apa bawa DSLR atau lomo ke sekolah kalau cuma buat foto-foto? Apalagi kalau tidak punya tujuan untuk hunting foto. Ada seorang teman saya anak IT juga memakai laptop mac. Sekarang dia baru ‘ngeh’ kalau anak IT lebih baik pakai Windows atau Linux. Atau mau pakai Blackberry cuma buat facebook, twitter dan BBM. Buat apa? Bulanannya mahal, iya kalau bayar sendiri, kalau masih numpang orang tua? Handphone biasa juga bisa kok untuk sekedar cek facebook atau twitter. Belilah sesuatu sesuai kebutuhan, bukan berarti yang paling bagus itu sesuai dengan yang kamu butuhkan kan? Toh, saya yakin dengan pandangan orang-orang sekarang, mereka tidak lagi wow melihat pemandangan seperti itu. Karena semua seragam, jadi terlihat biasa. Ketika saya masuk ke kampus baru yang notabenenya dominan Chinese, saya cukup salut dengan beberapa dari mereka. Saya tau mereka orang punya, tapi pakaian mereka biasa saja. Tas mereka biasa saja, jarang juga yang pakai Blackberry, tapi mereka tidak mau kalah soal pelajaran dan perkembangan teknologi. Dan kabarnya, banyak pula dari mereka yang melanjutkan kuliah di luar negeri kemudian mengembangkannya di kampung halaman. Dari sana saya belajar bahwa, kita harus bisa berinovasi agar lebih menjadi yang ‘lebih’ dari yang lain.

Saya memang tidak munafik, pola hidup saya juga masih seperti itu. Tapi saya mulai belajar sekarang, bahwa kita tidak bisa diperbudak dengan ‘gaya’, tapi sebaiknya ‘gaya’ itu sendiri yang kita perbudak. Saya menulis artikel ini kepada IYC tak lain agar pendapat saya didengar oleh teman-teman generasi saya. Kita harus buat perubahan yang lebih baik untuk Indonesia bukan? Tentu saja harus dimulai dari generasi kita, dimulai dari hal kecil, karena kita adalah generasi muda penerus bangsa dan contoh untuk adik-adik kita.


Komentar (2)

 


6 × = forty two


  • fairya

    Aqessa, I like your opinion. This is suitable with my writings. It is about ‘a shopper mask’. Many people worn out to make up their appearence to enter many big mall or plaza. I mean shop-spot.
    Some people make up their appearance to looks like socialite. But are their things is their own? Who knows. It is like a mask.
    xoxo, fairya.

    17 September 2009
  • aqessa

    hey fairya, terima kasih komentarnya :)
    aku sih hanya mengemukakan pendapatku, padahal anak skrg kreatif2 dan termasuk org ‘punya’, masa sih gak mau punya barang yg cuma dimiliki dia sendiri? aku punya byk ide utk desain baju atau tas tp nggak punya dana utk bikin hehe.
    aku sendiri kdg msh pakai yg berlabel kok. tp aku suka krm patternnya yg unik, dan biasanya sih lbh suka yg gada print out labelnya. soalnya kl ada, rasanya kyk iklan hehehe :D

    19 September 2009