Berbicara mengenai model,yang langsung terlintas dalam benak kita adalah kecantikan. Kemolekan tubuh menjadi hal yang mutlak dimiliki oleh seorang model. Namun,jika kita perhatikan lebih lanjut makna dari “model” itu sendiri kini telah mengalami pergeseran makna.
Secara etimologis, model berasal dari bahasa Italia, modello, yang mengandung beberapa pengertian. Dalam kamus “The Contemporary English-Indonesian Dictionary”, karangan Peter Salim (2002: 1194), dijelaskan bahwa pengertian “model” dapat ditinjau dari beberapa segi. Sebagai kata benda (noun), “model” mengandung banyak makna, antara lain bisa berarti: jenis, contoh, orang atau hal yang pantas ditiru, teladan dan orang yang berpose untuk dilukis atau dipotret. Sebagai kata sifat (adjective), “model”, dapat berarti: dipakai sebagai contoh atau teladan. Sedangkan sebagai kata kerja (verb), “model” dapat berarti: membuat dengan contoh, memperagakan pakaian, bekerja sebagai model dan membentuk. Dijelaskan pula bahwa pengertian “model” se-bagai kata benda dapat diidentikkan (synonyms) dengan pe-ngertian “example” dan “pattern”. Model adalah seorang atau sesuatu dengan sifat-sifat yang sangat baik yang seharusnya ditiru oleh orang lain. Example adalah sesuatu baik atau buruk, yang dapat ditiru. Sementara “pattern” dapat di-artikan sebagai sebuah model, rencana dan sebagainya yang harus diikuti dengan persis. Penjelasan yang hampir sama disampaikan oleh Badudu dan Zain (1996: 904) bahwa model memiliki arti yang sama dengan contoh, acuan dan pola.*
seperti apa yang saya tulis di atas,saya mengambil kesimpulan bahwa “model” berarti “teladan”,”contoh”, atau “seseorang yang mempunyai sifat-sifat baik”. Dalam artian “model” berarti “pemimpin”. Seseorang yang layak menjadi contoh bagi orang lain. Sosok yang seharusnya menunjukkan kebaikan dalam dirinya, bahwa saya patut di contoh,bahwa saya bisa menjadi suri tauladan bagi orang kebanyakan.
Namun,dewasa ini “model” lebih di titikberatkan pada sosok yang berlenggang di atas catwalk atau juga sosok yang berada di depan layar pertelevisian. Dan tentunya memiliki wajah nan ayu atupun tampan. Walaupun ada juga yang menerapkan prinsip brain,beauty,and behavior. Namun saya pikir brain atau intelektualitas itu hanya di butuhkan sedikit saja dalam hal ini. Sejatinya kata “model” itu sendiri Bukan hanya berlaku bagi para pria atupun wanita saja kata “model” itu di peruntukkan, namun juga bagi “suatu hal yang layak di contoh” itu juga merupakan “model”.
sekarang, siapakah seorang “model” itu sebenarnya?
RA.Kartini yang hidup pada masa kolonial berjuang habis-habisan untuk sebuah kesetaraan gender. Ia juga pengritik yang tangguh dari feodalisme jawa dengan segala tetek bengek kerumitan yang mengiringinya. Dan juga ia memegang salah satu tonggak sejarah modernisasi di Indonesia.
Ia banyak menulis surat dalam pinggitan yang di tunjukkan pada dirinya. Ia menulis surat untuk para sahabat-sahabat dan juga kaum intelektual di zamannya. Walupun saat itu ia menulisnya dalam bahasa belanda dan jarang sekali,bahkan hampir tidak pernah ia menulis dalam bahasa pribumi. Mengapa?? Menurut Pramoedya dalam bukunya panggil aku kartini saja, karena ia menujukkan surat-suratnya untuk kaum intelektual lagiplula pada saat itu sangat sedikit sekali orang yang bisa berbahasa jawa,jadi ia sedikit takut nantinya tulisannya akan siasia saja. Dalam buku tersebut juga di jelaskan bahwa dalam suratsuratnya kita bisa ‘membaca’ seorang kartini tidak hanya dari satu sisi saja. Ia bukan hanya sebagai ‘penggerak emansipasi’ pada waktu itu. Tetapi jika kita tau bhawa ia menyerap kekuatan-kekuatan yang ada pada penjajah, mengambilnya, dibawanya pulang, untuk memperlengkapi bangsanya dengan kekuatan baru.
apa yang ada dalam kartini lalu bukan tidak mungkin kita terapkan pada zaman sekarang.
jika dahulu ia yang hidup dalam hiruk pikuk peperangan saja sanggup menggubah wajah indonesia, mengapa kita yang hidup pada zaman serba ada justru malah mundur dari ‘start’ yang telah di buat olah kartini?
sangatlah luar biasa membayangkan seorang perempuan bumiputera berusia duapuluh (saat Kartini mulai menulis surat-suratnya), yang cuma tamatan Sekolah Rendah, tanpa kesempatan meneruskan sekolah, dan hanya susah payah belajar sendiri, bisa sedemikian maju pikiran, pengetahuan dan kepeloporannya. Karenanya kita patut merasa janggal jika pribadi dengan kemampuan dan jasa yang demikian besar . dan perlu juga diingat bahwa saat itu ia berada di bawah pinggitan,dan hanya menulis surat-suratnya itu di dalam kamar,di dalam kamar.
Begitulah sedikit kiranya seorang “model” itu layak di sebut dengan “model”. Seseorang yang memiliki nilai diferensiasi yang baik dan patut di contoh oleh orang lain. Figure seorang kartini adalah figure pemimpin dalam zamannya. Yang berusaha mati-matian di tengah keterbatasan untuk memajukan bangsanya ,dan mencoba untuk ‘out of the box’. Disinilah peran seorang model,memiliki dan menjadi seorang pemimpin,bukan hanya bagi orang lain,namun juga diri sendiri!
“yang tidak berani ,tidak menang. orang pemberani menaklukkan tiga perempat dunia.”
(RA.Kartini)Berbicara mengenai model,yang langsung terlintas dalam benak kita adalah kecantikan. Kemolekan tubuh menjadi hal yang mutlak dimiliki oleh seorang model. Namun,jika kita perhatikan lebih lanjut makna dari “model” itu sendiri kini telah mengalami pergeseran makna.
Secara etimologis, model berasal dari bahasa Italia, modello, yang mengandung beberapa pengertian. Dalam kamus “The Contemporary English-Indonesian Dictionary”, karangan Peter Salim (2002: 1194), dijelaskan bahwa pengertian “model” dapat ditinjau dari beberapa segi. Sebagai kata benda (noun), “model” mengandung banyak makna, antara lain bisa berarti: jenis, contoh, orang atau hal yang pantas ditiru, teladan dan orang yang berpose untuk dilukis atau dipotret. Sebagai kata sifat (adjective), “model”, dapat berarti: dipakai sebagai contoh atau teladan. Sedangkan sebagai kata kerja (verb), “model” dapat berarti: membuat dengan contoh, memperagakan pakaian, bekerja sebagai model dan membentuk. Dijelaskan pula bahwa pengertian “model” se-bagai kata benda dapat diidentikkan (synonyms) dengan pe-ngertian “example” dan “pattern”. Model adalah seorang atau sesuatu dengan sifat-sifat yang sangat baik yang seharusnya ditiru oleh orang lain. Example adalah sesuatu baik atau buruk, yang dapat ditiru. Sementara “pattern” dapat di-artikan sebagai sebuah model, rencana dan sebagainya yang harus diikuti dengan persis. Penjelasan yang hampir sama disampaikan oleh Badudu dan Zain (1996: 904) bahwa model memiliki arti yang sama dengan contoh, acuan dan pola.*
seperti apa yang saya tulis di atas,saya mengambil kesimpulan bahwa “model” berarti “teladan”,”contoh”, atau “seseorang yang mempunyai sifat-sifat baik”. Dalam artian “model” berarti “pemimpin”. Seseorang yang layak menjadi contoh bagi orang lain. Sosok yang seharusnya menunjukkan kebaikan dalam dirinya, bahwa saya patut di contoh,bahwa saya bisa menjadi suri tauladan bagi orang kebanyakan.
Namun,dewasa ini “model” lebih di titikberatkan pada sosok yang berlenggang di atas catwalk atau juga sosok yang berada di depan layar pertelevisian. Dan tentunya memiliki wajah nan ayu atupun tampan. Walaupun ada juga yang menerapkan prinsip brain,beauty,and behavior. Namun saya pikir brain atau intelektualitas itu hanya di butuhkan sedikit saja dalam hal ini. Sejatinya kata “model” itu sendiri Bukan hanya berlaku bagi para pria atupun wanita saja kata “model” itu di peruntukkan, namun juga bagi “suatu hal yang layak di contoh” itu juga merupakan “model”.
sekarang, siapakah seorang “model” itu sebenarnya?
RA.Kartini yang hidup pada masa kolonial berjuang habis-habisan untuk sebuah kesetaraan gender. Ia juga pengritik yang tangguh dari feodalisme jawa dengan segala tetek bengek kerumitan yang mengiringinya. Dan juga ia memegang salah satu tonggak sejarah modernisasi di Indonesia.
Ia banyak menulis surat dalam pinggitan yang di tunjukkan pada dirinya. Ia menulis surat untuk para sahabat-sahabat dan juga kaum intelektual di zamannya. Walupun saat itu ia menulisnya dalam bahasa belanda dan jarang sekali,bahkan hampir tidak pernah ia menulis dalam bahasa pribumi. Mengapa?? Menurut Pramoedya dalam bukunya panggil aku kartini saja, karena ia menujukkan surat-suratnya untuk kaum intelektual lagiplula pada saat itu sangat sedikit sekali orang yang bisa berbahasa jawa,jadi ia sedikit takut nantinya tulisannya akan siasia saja. Dalam buku tersebut juga di jelaskan bahwa dalam suratsuratnya kita bisa ‘membaca’ seorang kartini tidak hanya dari satu sisi saja. Ia bukan hanya sebagai ‘penggerak emansipasi’ pada waktu itu. Tetapi jika kita tau bhawa ia menyerap kekuatan-kekuatan yang ada pada penjajah, mengambilnya, dibawanya pulang, untuk memperlengkapi bangsanya dengan kekuatan baru.
apa yang ada dalam kartini lalu bukan tidak mungkin kita terapkan pada zaman sekarang.
jika dahulu ia yang hidup dalam hiruk pikuk peperangan saja sanggup menggubah wajah indonesia, mengapa kita yang hidup pada zaman serba ada justru malah mundur dari ‘start’ yang telah di buat olah kartini?
sangatlah luar biasa membayangkan seorang perempuan bumiputera berusia duapuluh (saat Kartini mulai menulis surat-suratnya), yang cuma tamatan Sekolah Rendah, tanpa kesempatan meneruskan sekolah, dan hanya susah payah belajar sendiri, bisa sedemikian maju pikiran, pengetahuan dan kepeloporannya. Karenanya kita patut merasa janggal jika pribadi dengan kemampuan dan jasa yang demikian besar . dan perlu juga diingat bahwa saat itu ia berada di bawah pinggitan,dan hanya menulis surat-suratnya itu di dalam kamar,di dalam kamar.
Begitulah sedikit kiranya seorang “model” itu layak di sebut dengan “model”. Seseorang yang memiliki nilai diferensiasi yang baik dan patut di contoh oleh orang lain. Figure seorang kartini adalah figure pemimpin dalam zamannya. Yang berusaha mati-matian di tengah keterbatasan untuk memajukan bangsanya ,dan mencoba untuk ‘out of the box’. Disinilah peran seorang model,memiliki dan menjadi seorang pemimpin,bukan hanya bagi orang lain,namun juga diri sendiri!
“yang tidak berani ,tidak menang. orang pemberani menaklukkan tiga perempat dunia.”
(RA.Kartini)

Komentar (0)