Musik Indonesia.

Ditulis pada 12 July 2010 oleh galihusni

Saya tertarik pada isu atau berita tentang perkembangan music indie Indonesia. Orang Indonesia terkadang bahkan sering kagum dan fanatic secara berlebihan terhadap musisi dan music luar negeri. Mereka sering rela untuk mengantri bahkan berteriak histeris ketika artis kesukaannya datang dan konser. Tapi, musisi Indonesia sendiri kurang di apresiasi oleh masyarakat.Saya tertarik pada isu atau berita tentang perkembangan music indie Indonesia. Orang Indonesia terkadang bahkan sering kagum dan fanatic secara berlebihan terhadap musisi dan music luar negeri. Mereka sering rela untuk mengantri bahkan berteriak histeris ketika artis kesukaannya datang dan konser. Tapi, musisi Indonesia sendiri kurang di apresiasi oleh masyarakat.

Memang, apresiasi muncul kepada musisi major, mereka telah di-industrialisasi oleh label. Kebanyakan musisi sekarang adalah musisi satu lagu booming, lalu mati setelah itu. Cuma untuk mengejar pasar saja, dan tidak mempunyai musikalitas yang bagus. Mereka cenderung musisi instant. Berbeda dengan musisi indie Indonesia, mulai dari pengerjaan album, distribusi, dan konser, mereka membuat sendiri. Hasilnya? Mereka yang idealis, tentunya puas dengan karya mereka, dan mereka mendapat apresiasi dan penghargaan dari luar negeri. Kerap mereka diundang konser di luar negeri. Sebagai contoh adalah SORE Band, mereka dinobatkan sebagai band dengan musikalitas tinggi oleh majalah TIMES. White Shoes And The Couples Company, The SIGIT, Mocca, Burgerkill juga kerap kali konser di luar negeri. Bahkan, lagu-lagu dari Mocca menjadi soundtrack dan jingle iklan di korea. Ini membuktikan kalau musisi Indonesia berkualitas.

Musisi jazz Indonesia juga mereka mempunyai kemampuan tidak kalah hebat dengan musisi luar negeri. Mereka mempunyai skill dan karya yang keren. Contohnya adalah Java Jazz Festival, musisi jazz dalam negeri tidak kalah hebat dengan musisi luar negeri. Bahkan mereka diajak untuk kolaborasi. Dan itu membuktikan kalau musisi Indonesia sangat bermutu.

Namun, dukungan dari pemerintah saya rasa kurang, pemerintah terkadang mempersulit izin penyelenggaraan konser. Apalagi konser band-band beraliran rock atau underground. Pemerintah nampaknya trauma karena kejadian konser-konser rock sebelumnya, sering terjadi kerusuhan dan bahkan berujung kematian. Tetapi berbeda sekarang. Penonton konser di Indonesia sudah dewasa, sudah bisa berperilaku tertib. Pemerintah juga seharusnya memberikan pelayanan dan mendukung untuk perkembangan musisi Indonesia dengan membangun gedung pertunjukkan berskala internasional, ini akan menghasilkan devisa bagi Negara dan daerah. Ini juga bisa menjadikan Indonesia sebagai pusat kebudayaan di dunia. Indonesia mempunyai aset banyak untuk berkembang.

Memang, apresiasi muncul kepada musisi major, mereka telah di-industrialisasi oleh label. Kebanyakan musisi sekarang adalah musisi satu lagu booming, lalu mati setelah itu. Cuma untuk mengejar pasar saja, dan tidak mempunyai musikalitas yang bagus. Mereka cenderung musisi instant. Berbeda dengan musisi indie Indonesia, mulai dari pengerjaan album, distribusi, dan konser, mereka membuat sendiri. Hasilnya? Mereka yang idealis, tentunya puas dengan karya mereka, dan mereka mendapat apresiasi dan penghargaan dari luar negeri. Kerap mereka diundang konser di luar negeri. Sebagai contoh adalah SORE Band, mereka dinobatkan sebagai band dengan musikalitas tinggi oleh majalah TIMES. White Shoes And The Couples Company, The SIGIT, Mocca, Burgerkill juga kerap kali konser di luar negeri. Bahkan, lagu-lagu dari Mocca menjadi soundtrack dan jingle iklan di korea. Ini membuktikan kalau musisi Indonesia berkualitas.

Musisi jazz Indonesia juga mereka mempunyai kemampuan tidak kalah hebat dengan musisi luar negeri. Mereka mempunyai skill dan karya yang keren. Contohnya adalah Java Jazz Festival, musisi jazz dalam negeri tidak kalah hebat dengan musisi luar negeri. Bahkan mereka diajak untuk kolaborasi. Dan itu membuktikan kalau musisi Indonesia sangat bermutu.

Namun, dukungan dari pemerintah saya rasa kurang, pemerintah terkadang mempersulit izin penyelenggaraan konser. Apalagi konser band-band beraliran rock atau underground. Pemerintah nampaknya trauma karena kejadian konser-konser rock sebelumnya, sering terjadi kerusuhan dan bahkan berujung kematian. Tetapi berbeda sekarang. Penonton konser di Indonesia sudah dewasa, sudah bisa berperilaku tertib. Pemerintah juga seharusnya memberikan pelayanan dan mendukung untuk perkembangan musisi Indonesia dengan membangun gedung pertunjukkan berskala internasional, ini akan menghasilkan devisa bagi Negara dan daerah. Ini juga bisa menjadikan Indonesia sebagai pusat kebudayaan di dunia. Indonesia mempunyai aset banyak untuk berkembang.


Komentar (1)

 


eight − = 7