Genre, Orang Bilang Seperti Itu.

Ditulis pada 12 July 2010 oleh galihusni

Artikel gue sekarang terilhami dari pertanyaan mudah temen gue ke gue beberapa minggu ke belakang. Saat itu gue sedang jalan-jalan dan menghabiskan waktu dengan secara sampah dan tak ada guna.

Berbincang ngalor-ngidul dan entah apa yang di bicarakan, yang jelas kebanyakan pembahasannya adalah yang jauh dari kata berguna. Sadar atau tidak sadar, ketika perbincangan berlangsung, gue dan kedua temen gue mengeluarkan handphone dan mengotak-ngatiknya walaupun ga ada sms atau telpon, hanya sekedar iseng dan itu berbarengan. Artikel gue sekarang terilhami dari pertanyaan mudah temen gue ke gue beberapa minggu ke belakang. Saat itu gue sedang jalan-jalan dan menghabiskan waktu dengan secara sampah dan tak ada guna.

Berbincang ngalor-ngidul dan entah apa yang di bicarakan, yang jelas kebanyakan pembahasannya adalah yang jauh dari kata berguna. Sadar atau tidak sadar, ketika perbincangan berlangsung, gue dan kedua temen gue mengeluarkan handphone dan mengotak-ngatiknya walaupun ga ada sms atau telpon, hanya sekedar iseng dan itu berbarengan.

Setelah pembicaraan stuck, gue keluar mobil, mencoba menghirup udara segar dan sedikit melakukan sedikit peregangan dengan mengguling-gulingkan badan ke aspal jalan dan memberikan minuman obat kuat kepada tukang parkir dekat apotek. Lalu, setelah enakan, gue kembali masuk mobil dan kembali berbincang. Ketika gue memasuki mobil, sayup-sayup terdengar suara vokalis Secondhand Serenade mendayu-dayu, dan kedua temen gue sedang menyanyikan lagu andalan band tersebut. Yes, seketika juga gue mendengarnya, dan ikut bernyanyi walaupun gue ga tau liriknya dan hanya mengeluarkan kata-kata na-na-na.haha. Habis satu lagu, dipindah lagi lagu berikutnya, kembali diperdengarkan lagu yang lumayan lawas, Yellowcard. Selesai Yellowcard menyanyikan lagunya, si temen gue 1 bertanya, ‘Ah, Min, lo anak emo ya?kok lagu-lagunya kaya begituan semua?’. Si temen gue 2 menjawab ‘Yah, gue mah sesuai suasana hati sajalah’. Setelah itu, giliran si temen gue 2 yang memutar lagu yang ada di handphonenya dan bernyanyi alakadarnya. Di playlistnya ada terdapat berbagai macam nama band-band ternama semacam Peterpan, Ungu, ST 12, Kangen Band, Hello Band, Hijau Daun, dan lain sebagainya.

Lalu si temen gue 1 mencoba mengambil handphone gue, dan mencari-cari lagu di handphone gue. Entah apa dan bagaimana, dia mengernyitkan dahi dan mengurutkan telinga dia sesaat setelah dia meminta menstop lagu yang sedang dinikmati temen gue 2 dan lalu mengklik tanda play di handphone gue. Sesaat dia bertanya, ‘Lih, ada lagu lainnya ga selain lagu-lagu aneh ini? Gue kok cuma bisa nikmatin lagunya Efek Rumah Kaca yang Desember doang ya? Itu juga gue ga hafal liriknya. Selera musik lo aneh Lih.’. gue menjawab, ‘ah, sob, itu lagu-lagu sebagian aja kok, karena memory handphone gue dikit.’. terus temen gue 2 nimpalin, ‘Lih, lo mah sok eklusif, lagu-lagunya cuma yang lo tau aja, ga masuk ke telinga gue, lo alirannya apa sih?’ Setelah itu dia melihat list lagu yang ada di handphone gue, terlihat ada tulisan ERK, Cloudroom, The Tingtings, Bjork, Ape On The Roof, The Birds and The Bees, Club 8, Koop, Mocca, The Adams dll. gue jawab lagi, ‘Ah, ga juga kok, lo bisa liat di itunes di laptop gue, gue juga denger kok lagu-lagu yang lo denger. Gue juga denger lagu-lagu nya Peter Pan, Afgan, Ungu, ST 12. Tapi emang kebanyakan, lagu-lagu yang gue lebih sukain, gue masukin ke handphone gue.’ Gue juga nambahin, ‘Lo liat lagi di playlist gue, disitu ada juga kok lagu-lagunya Opick, Raihan dsb. Gue juga denger lagu-lagu lainnya, yah, at least, menurut gue lagu kan buat di nikmatin.’

Sesaat setelah temen gue denger lagunya ERK yang Desember, dia mengembalikan handphone gue dan dia kembali memutar lagu-lagu yang ada di handphonenya. Terdengar suara Afgan mendayu-dayu, dan membuat gue ikutan nyanyi. Haha.

Sekarang, gue berpikir tentang pertanyaan mudah temen gue tadi tentang aliran musik. Kenapa mesti ada pengkotak-kotakan sih? Kenapa kalo lo suka musik rock, ga boleh dateng ke konsernya Incognito misalnya. Pengalaman gue, Java Jazz 2009 kemaren gue menyempatkan diri untuk menikmatinya. Bersama temen gue yang memang menyukai Jazz. Kebetulan gue menonton di hari ketiga ketika Brian Mcknight manggung. Gue sebenernya teramat penasaran di hari itu karena terpampang list artis dengan nama besarnya di stage yang besar yakni Slank. Alhasil, temen gue yang sedang asik menikmati Tompi dan bernyanyi penuh penghayatan, gue menggiring dia dan memaksa untuk ikut menikmati Slank. Gue sebenernya menunggu Slank saat itu akan membawakan lagu apa dan dengan aransemen apa, swing atau jazz crossover. Ternyata kenyataannya lain. Slank tetaplah Slank, dia memainkan lagu-lagunya dengan gaya dan aransemen yang apa adanya dan memang Slank. Dengan bertelanjang dada, Kaka sang vokalis menyanyikan lagu-lagunya dengan gaya rock seperti biasanya. Terdengar gebukan drum dan sabitan gitarnya juga seperti Slank biasa bawakan. Yang menjadikannya beda ialah tempat, acara, embel-embel dan tentu tak terlihat bendera Slankers yang terlihat di venue tersebut. Haha.

Sedikit kecewa, pertama dengan kehadiran Slank di Java Jazz dan penampilan Slank dengan lagu-lagunya yang seperti biasa mereka bawakan. Tetapi, setelah itu, gue menonton David Naif feat. Abdul, dan menikmatinya. Setelah itu gue jadi berpikir, gue terlalu terkungkung dengan pikiran gue yang suka Jazz pasti dateng ke acara Jazz dan menikmati lagu-lagu yang dibawakan begitu kental rasa Jazznya. Begitu juga ketika Lamb of God manggung, gue berpikir kalo yang nonton pasti sangar dan sebagainya.

Ternyata pikiran kita salah, musik, lukisan, karya seni lainnya, atau berbagai macam yang dihasilkan dan dilakukan berbagai macam orang ternyata mestinya bisa dinikmati berbagai kalangan. Jazz yang katanya aliran musik yang hanya bisa dinikmati kalangan berada, tetapi di dalamnya banyak kok band-band yang mewakili minoritas manggung, begitu sebaliknya. Berbagai aspek, banyak memang perbedaan tentang aliran-aliran, agama, ras, dan aspek lainnya termasuk seni. Tetapi gue paham, kalo ternyata segala sesuatunya ialah bagaimana cara kita menikmati dan menghargai karya-karya yang dihasilkan oleh siapapun. Yah, pada akhirnya itu kembali ke selera orang masing-masing, yang memang suka rock seharusnya tidak hanya fanatik terhadap satu genre rock saja, melihat yang lain adalah baik dilakukan sebagai penikmat seni. Yang mengaku emo-kids juga yah, jangan menganggap dirinya dan musiknya lebih dasyat daripada band-band macam Hijau Daun atau Kangen Band, karena apa bedanya, liriknya sama-sama cengeng kok. Penggemar Jazz juga, bukan berati mereka yang berkalangan atas saja yang bisa menikmati musiknya, tetapi segala kalangan. Kaum yang menyebut dirinya Mods dan lain sebagainya, cobalah masuk dan dengar musik lainnya, sebagai referensi. Yah, saling menghormati saja kalau memang pengkotak-kotakan itu sulit dihapus. Dan berkarya secara jujur dan berkualitaslah yang menjadikan sesuatu di bilang BIG THING.

Setelah pembicaraan stuck, gue keluar mobil, mencoba menghirup udara segar dan sedikit melakukan sedikit peregangan dengan mengguling-gulingkan badan ke aspal jalan dan memberikan minuman obat kuat kepada tukang parkir dekat apotek. Lalu, setelah enakan, gue kembali masuk mobil dan kembali berbincang. Ketika gue memasuki mobil, sayup-sayup terdengar suara vokalis Secondhand Serenade mendayu-dayu, dan kedua temen gue sedang menyanyikan lagu andalan band tersebut. Yes, seketika juga gue mendengarnya, dan ikut bernyanyi walaupun gue ga tau liriknya dan hanya mengeluarkan kata-kata na-na-na.haha. Habis satu lagu, dipindah lagi lagu berikutnya, kembali diperdengarkan lagu yang lumayan lawas, Yellowcard. Selesai Yellowcard menyanyikan lagunya, si temen gue 1 bertanya, ‘Ah, Min, lo anak emo ya?kok lagu-lagunya kaya begituan semua?’. Si temen gue 2 menjawab ‘Yah, gue mah sesuai suasana hati sajalah’. Setelah itu, giliran si temen gue 2 yang memutar lagu yang ada di handphonenya dan bernyanyi alakadarnya. Di playlistnya ada terdapat berbagai macam nama band-band ternama semacam Peterpan, Ungu, ST 12, Kangen Band, Hello Band, Hijau Daun, dan lain sebagainya.

Lalu si temen gue 1 mencoba mengambil handphone gue, dan mencari-cari lagu di handphone gue. Entah apa dan bagaimana, dia mengernyitkan dahi dan mengurutkan telinga dia sesaat setelah dia meminta menstop lagu yang sedang dinikmati temen gue 2 dan lalu mengklik tanda play di handphone gue. Sesaat dia bertanya, ‘Lih, ada lagu lainnya ga selain lagu-lagu aneh ini? Gue kok cuma bisa nikmatin lagunya Efek Rumah Kaca yang Desember doang ya? Itu juga gue ga hafal liriknya. Selera musik lo aneh Lih.’. gue menjawab, ‘ah, sob, itu lagu-lagu sebagian aja kok, karena memory handphone gue dikit.’. terus temen gue 2 nimpalin, ‘Lih, lo mah sok eklusif, lagu-lagunya cuma yang lo tau aja, ga masuk ke telinga gue, lo alirannya apa sih?’ Setelah itu dia melihat list lagu yang ada di handphone gue, terlihat ada tulisan ERK, Cloudroom, The Tingtings, Bjork, Ape On The Roof, The Birds and The Bees, Club 8, Koop, Mocca, The Adams dll. gue jawab lagi, ‘Ah, ga juga kok, lo bisa liat di itunes di laptop gue, gue juga denger kok lagu-lagu yang lo denger. Gue juga denger lagu-lagu nya Peter Pan, Afgan, Ungu, ST 12. Tapi emang kebanyakan, lagu-lagu yang gue lebih sukain, gue masukin ke handphone gue.’ Gue juga nambahin, ‘Lo liat lagi di playlist gue, disitu ada juga kok lagu-lagunya Opick, Raihan dsb. Gue juga denger lagu-lagu lainnya, yah, at least, menurut gue lagu kan buat di nikmatin.’

Sesaat setelah temen gue denger lagunya ERK yang Desember, dia mengembalikan handphone gue dan dia kembali memutar lagu-lagu yang ada di handphonenya. Terdengar suara Afgan mendayu-dayu, dan membuat gue ikutan nyanyi. Haha.

Sekarang, gue berpikir tentang pertanyaan mudah temen gue tadi tentang aliran musik. Kenapa mesti ada pengkotak-kotakan sih? Kenapa kalo lo suka musik rock, ga boleh dateng ke konsernya Incognito misalnya. Pengalaman gue, Java Jazz 2009 kemaren gue menyempatkan diri untuk menikmatinya. Bersama temen gue yang memang menyukai Jazz. Kebetulan gue menonton di hari ketiga ketika Brian Mcknight manggung. Gue sebenernya teramat penasaran di hari itu karena terpampang list artis dengan nama besarnya di stage yang besar yakni Slank. Alhasil, temen gue yang sedang asik menikmati Tompi dan bernyanyi penuh penghayatan, gue menggiring dia dan memaksa untuk ikut menikmati Slank. Gue sebenernya menunggu Slank saat itu akan membawakan lagu apa dan dengan aransemen apa, swing atau jazz crossover. Ternyata kenyataannya lain. Slank tetaplah Slank, dia memainkan lagu-lagunya dengan gaya dan aransemen yang apa adanya dan memang Slank. Dengan bertelanjang dada, Kaka sang vokalis menyanyikan lagu-lagunya dengan gaya rock seperti biasanya. Terdengar gebukan drum dan sabitan gitarnya juga seperti Slank biasa bawakan. Yang menjadikannya beda ialah tempat, acara, embel-embel dan tentu tak terlihat bendera Slankers yang terlihat di venue tersebut. Haha.

Sedikit kecewa, pertama dengan kehadiran Slank di Java Jazz dan penampilan Slank dengan lagu-lagunya yang seperti biasa mereka bawakan. Tetapi, setelah itu, gue menonton David Naif feat. Abdul, dan menikmatinya. Setelah itu gue jadi berpikir, gue terlalu terkungkung dengan pikiran gue yang suka Jazz pasti dateng ke acara Jazz dan menikmati lagu-lagu yang dibawakan begitu kental rasa Jazznya. Begitu juga ketika Lamb of God manggung, gue berpikir kalo yang nonton pasti sangar dan sebagainya.

Ternyata pikiran kita salah, musik, lukisan, karya seni lainnya, atau berbagai macam yang dihasilkan dan dilakukan berbagai macam orang ternyata mestinya bisa dinikmati berbagai kalangan. Jazz yang katanya aliran musik yang hanya bisa dinikmati kalangan berada, tetapi di dalamnya banyak kok band-band yang mewakili minoritas manggung, begitu sebaliknya. Berbagai aspek, banyak memang perbedaan tentang aliran-aliran, agama, ras, dan aspek lainnya termasuk seni. Tetapi gue paham, kalo ternyata segala sesuatunya ialah bagaimana cara kita menikmati dan menghargai karya-karya yang dihasilkan oleh siapapun. Yah, pada akhirnya itu kembali ke selera orang masing-masing, yang memang suka rock seharusnya tidak hanya fanatik terhadap satu genre rock saja, melihat yang lain adalah baik dilakukan sebagai penikmat seni. Yang mengaku emo-kids juga yah, jangan menganggap dirinya dan musiknya lebih dasyat daripada band-band macam Hijau Daun atau Kangen Band, karena apa bedanya, liriknya sama-sama cengeng kok. Penggemar Jazz juga, bukan berati mereka yang berkalangan atas saja yang bisa menikmati musiknya, tetapi segala kalangan. Kaum yang menyebut dirinya Mods dan lain sebagainya, cobalah masuk dan dengar musik lainnya, sebagai referensi. Yah, saling menghormati saja kalau memang pengkotak-kotakan itu sulit dihapus. Dan berkarya secara jujur dan berkualitaslah yang menjadikan sesuatu di bilang BIG THING.


Komentar (0)

 


nine × 5 =