Ketika mendenganr kata sejarah, hal apa yang pertama keluar dari pikiran dari kalian semua? Apakah tanggal dimana Pangeran Diponogoro meninggal? Proklamasi di bacakan? Bom yang dijatuhkan oleh Amerika Serikat di Hiroshima dan Nagasaki? Atau bahkan, pelajaran yang identik dengan hapalan akan tanggal, yang kadang membuat kita merasa “apa semua itu akan dipakai di kemudian hari”.
Coba kita lihat dari perspektif lain, dimana media sejarah bisa digunakan sebagai aset penting untuk bisa mengenal negara kita lebih jauh. Mungkin, melihat ke skala yang lebih kecil hal ini bisa menjadi suatu rangkap bagi kita semua untuk bisa melihat komnunitas yang terjadi di sekitar kita, dengan cara melihat apa yang terjadi di masa lampau.
Kita sebagai generasi penerus negara ini, akan di tantang untuk bisa membuat negara ini lebih baik dari generas seblumnya. Itulah yang menjadi ekspetasi dari setiap angkatan muda yang nantinya akan membuat suatu perubahan. Lihat saja, R.A Kartini atau Soe Hoek Gie. Mereka adalah tokoh pendidikan dan bisa disebut sebagai revolusioner dalam hal pendidikan. Itu baru dari satu bidang saja, berapa banyak hal yang bisa kita buat di masa mendatang dengan hanya melihat sejenak ke masa sebelumnya. Tentu, kita tidak akan membuat kesalahan yang sama dan malahan penemuan baru akan terus dikembangkan dengan memegang prinsip, “berpikir maju dan tetap melihat ke belakang”.
Melihat sisi seorang Soe Hok Gie, seorang mahasiswa yang meninggal di usia yang sangat dini, yaitu 27 tahun. Mungkin selama ini, kita hanya mengenal tokoh-tokoh seperti Angelina Jolie yang menjadi perwakilan UNICEF di berbagai belahan dunia, untuk menyebarkan kedamaian serta pesan yang berguna akan anak-anak. Tapi, lihatkan sedikit ke tahun 1960an dimana sang legenda hidup. Gie, tidak akan mati dan terus meraja lela sejarah Indonesia, dengan segala bentuk perjuangan serta tulisan yang ia buat sebagai bentuk perjuangan demokarsi yang ia kibarkan kepada kaum minoritas, yang menurutnya pada saat itu “…para pejabar atas sedang asyik dengan para istri-istri cantiknya”.
Di era seperti sekarang, hal yang bisa kita fokuskan ialah terhadap pendidikan, dan berpikir tentang hal yang bisa kita sumbangsihkan terhadap Indonesia. Semangat yang mengebu-gebu dan keberaniaan diri Gie, bisa menjadi motivator bagi kita bahwa seorang figur ikon sejarah Indonesia akan hidup tanpa habis di makan zaman. Dirinnya secara fisik telah tiada, tapi jasa serta hakikat dalam dirinya masih terus dikumandangkan ke seluruh plosok Indonesia, agar anak cucu kita nantinya bisa mendengar.
Apakah ini bisa menjadi suatu “wake up call?”
Harusnya, ini bisa menjadi suatu nilai yang bisa kita tanamkan agar dapat maju untuk Indonesia yang lebih baik.

Komentar (6)
Setuju banget dengan pendapat hramadhan mengenai pentingnya sejarah bagi anak muda di Indonesia !
Pentingnya sosok-sosok pejuang dalam sejarah memang tidak bisa dipungkiri, karena telah memberikan inspirasi dan semangat perjuangan yang sampai sekarang belum padam. Sampai saat ini, puisi Gie yang berjudul ‘Sebuah Tanya’ merupakan salah satu karya yang menurut saya benar-benar priceless-tidak tergantikan. Bukan hanya sosok-sosok tersebut yang memegang peranan penting dalam menebarkan semangat perjuangan – peranan ‘sejarah’ juga sangat penting dalam menentukan jati diri sebuah bangsa dan menumbuhkan rasa cinta akan tanah air.
Hingga saat ini, Negara Jerman tidak berkenan memulai proyek-proyek yang ‘berbau’ nuklir, karena mereka memegang teguh sejarah mereka yang mengalami peristiwa pahit yang berhubungan dengan isu nuklir tersebut. Hal ini membuktikan, bahwa sejarah juga menentukan langkah-langkah apa saja yang akan diambil oleh suatu pemerintahan. Tentunya, bangsa kita dapat belajar banyak dari sejarah ‘Indonesia yang terjajah selama ratusan tahun’, dan seharusnya kita tahu benar bahwa penjajahan dan kekalahan adalah sesuatu yang tidak ingin kita alami lagi. Lewat sejarah, kita sebagai generasi muda juga akan memiliki rasa cinta tanah air, apalagi setelah mengetahui perjuangan para pahlawan yang tidak pantas disia-siakan.
Saya yakin, bahkan di masa kini, banyak sekali Gie-Gie lain yang terus berjuang, namun belum ‘terdengar’. Yang jelas, kesadaran akan pentingnya sejarah bukan hanya merupakan ‘wake up call’ bagi kita, tetapi juga merupakan ‘constant calling’, yang terus menerus menyemangati kita untuk memberikan kontribusi kepada Negara ini.
‘Tak kenal maka tak sayang’, marilah kita senantiasa menghayati sejarah Indonesia, sehingga tumbuhlah rasa cinta dan semangat yang terus tumbuh untuk memperbaiki Zamrud Khatulistiwa kita!
9 March 2010dear jessicamarpaung,
wah, terima kasih banget yaaa udh spend waktu untuk baca artikel yang says tulis..ini priceless banget bisa dapet response untuk ide yang saya tulis.
sosok Gie ini mungkin satu dari sejuta pahlawan Indonesia yang kita tahu. tapi inilah, cara kita untuk maju dengan menggunakan semangat yang ia miliki..semangat revolusioner..
about the “constant calling” ini merupakan sebutan yang lebih baik daripada “wake up call” yang saya tulis. terima kasih sudah di beri sebutan yang lebih baik, agar kita tidak hanya sadar akan hal tersebut, tapi “secara tidak langsung” diharuskan untuk bertindak.
terakhir, AYO KITA SAYANGI NEGARA KITA!!!!!
10 March 2010setuju!! mulai dari yang kecil-kecil, buktikan kita bisa berkontribusi!
12 March 2010tak kenal maka tak sayang..GREAT!!
15 March 2010@hramadhan : artikelnya juga priceless banget kok! keep writing ya
19 March 2010memang betul, tidak ingatkah salah satu judul pidato Bung Karno? yaitu “Jas Merah (Jangan sekali-sekali meninggalkan sejarah…”
tetapi ada yang luput dari pelajaran sejarah kita padahal jasa orang-orang tersebut tidak kalah dari Soekarno sekalipun, salah satunya Tan Malaka dan RM Tirto Adi Suryo
Dari semua sejarah Indonesia dapat disimpulkan satu kata yang paling penting untuk maju, “persatuan”…
16 April 2010