Bukankah bumi ini diciptakan, sebagai tempat agar mahluk hidup dapat saling mengasihi dan mencintai? Tapi ketika benih-benih sang pencinta hadir, mengapa mereka sudah harus menerima kenyataan untuk diperdagangkan? Bayangkan, mereka yang munggil, tak berdaya dan baru dapat bernafas serta menghirup udara segar dunia, seakan-akan tak pantas menerima hangatnya dekapan seorang wanita yang seharusnya dipanggil dengan sebutan “Mama”.Bukankah bumi ini diciptakan, sebagai tempat agar mahluk hidup dapat saling mengasihi dan mencintai? Tapi ketika benih-benih sang pencinta hadir, mengapa mereka sudah harus menerima kenyataan untuk diperdagangkan? Bayangkan, mereka yang munggil, tak berdaya dan baru dapat bernafas serta menghirup udara segar dunia, seakan-akan tak pantas menerima hangatnya dekapan seorang wanita yang seharusnya dipanggil dengan sebutan “Mama”.
Kulitnya masih merah dan mata kecilnya belum dapat terbuka sempurna, tetapi identitasnya sudah disulap. Perdagangan anak begitu mudah bibir mengucap kata-kata tersebut, tetapi begitu sulit pikiran dan tenaga menyelesaikan masalah tersebut. Begitu sulitkah membangun kesadaran seorang wanita yang adalah seorang ibu, untuk tidak menjual anaknya sendiri? Ketika kita berbicara perihal cinta dimana cinta sang ibu untuk si mungggil, darah dangingnya sendiri? Sayang..sayang..seribu sayang.. orang-orang hanya dapat menyayangkan permasalahan ini. Banyak mulut yang mencibir kalau semua itu adalaha nasib yang harus diterima sang ibu. Sadar dan buka mata!! Ini bukan nasib, ini adalah pilihan yang memang dipilih dari orang-orang yang memilih pilihannya. Pilihan menjadikan rahimnya menjadi sebuah mesin penghasil anak. Begitu menohok hati ketika mengetahui rahim yang begitu suci dan diindahkan telah menjadi alat untuk mengais kehidupan. Entah apa yang ada dalam pikiran wanita yang tidak segan menjual bayi kandungnya sendiri. 9 bulan lamanya mengandung, tidakah tumbuh benih-benih cinta pada anaknya? Sakitnya melahirkan menjadi jasa yang pantas untuk dibayar, seharga 500ribu.
Ketika hati nurani sudah terbiasa diasah, masihkah ada pasangan suami istri yang tega memesan seorang anak? Ketika moral sudah terpatri dalam setiap diri manusia, masihkah ada wanita kaya yang tega memberi uang sebesar 500 ribu untuk biaya persalinan dan 500 ribu membeli seorang bayi pada wanita yang miskin? Ini bukanlah garis tangan yang sudah tergores untuk para pasangan yang tidak mempunyai anak. Ini adalah pilihan mereka untuk memesan anak, 9 bulan sebelumnya di perumahan kumuh. Tahukah mereka? Bahwa masih banyak bayi-bayi diranjang panti asuhan, yang menunggu lembutnya belaian dari seorang ibu dan hangatnya dekapan sang ayah. Adanya alasan menjual anak karena terlalu banyak memiliki anak, kalau begitu bagaimana dengan program KB? Masihkah kurang sosialisasi program ini bagi mereka. Kalau begitu, tugas kita para pemuda adalah mensosialisasikan program KB yang sudah banyak tersedia diberbagai puskesmas, dengan segala media yang dapat kita gunakan. Jangan biarkan ada anak-anak lainnya yang terjual begitu saja.
Sesungguhnya tidak ada satupun manusia yang pantas menjual dan membeli seorang anak dan sesungguhnya tidak akan pernah ada harga yang pantas untuk membeli seorang anak manusia. Baik aborsi dan menjual anak, keduanya amatlah kejam. Ingatlah, Ketika seorang wanita berani menjual anaknya, maka ia menyerahkan nasib anaknya sendiri kepada manusia. Ketika seorang ibu tega menjual anaknya, maka ia tega mengadaikan masa depan anaknya. Belum tentu anak-anak yang telah dijual akan dirawat dengan baik oleh keluarga baru mereka. Bisa saja, organ-organ sang bayi diperjual belikan, atau sengaja dibeli untuk dipakai tenaganya, kelak ketika ia besar nanti. Itu artinya menjual belikan anak berarti menjual belikan masa depan bangsa. Kita harus sadar bahwa masa depan bangsa ada di dalam tanggan generasi muda. Tapi ketika cikal bakal generasi yang baru muncul sudah diperjual belikan. Bayangkan setiap satu orang anak meiliki sejuta kemungkinan. Ia mungkin menjadi penemu obat kanker, ia mungkin menjadi presiden, dokter yang menyelamatkan nyawa banyak orang, tentara yang siap membela bangsanya, calon menteri yang jujur bahkan ia juga berkemungkinan menjadi guru yang berdedikasi untuk bangsanya. Tapi nasib mereka yang diperdangangkan hancur seketika, apabila mereka jatuh pada tangan yang salah. Itu artinya memperdagangkan anak, memperdagangakan masa depan bangsa. Ini saatnya bagi kita para remaja untuk bergerak melakukan sesuatu! Lindungi bayi mungil bangsa dari perdagangan anak!
Siapa yang tahu pikiran dan niat seorang manusia, ketika seorang bayi ada ditangganya. Percayalah tidak ada ibu manapun yang mencintai anaknya melebihi ibu kandungnya sendiri.
By : Marga Rete -Duta Paramadina-
Kulitnya masih merah dan mata kecilnya belum dapat terbuka sempurna, tetapi identitasnya sudah disulap. Perdagangan anak begitu mudah bibir mengucap kata-kata tersebut, tetapi begitu sulit pikiran dan tenaga menyelesaikan masalah tersebut. Begitu sulitkah membangun kesadaran seorang wanita yang adalah seorang ibu, untuk tidak menjual anaknya sendiri? Ketika kita berbicara perihal cinta dimana cinta sang ibu untuk si mungggil, darah dangingnya sendiri? Sayang..sayang..seribu sayang.. orang-orang hanya dapat menyayangkan permasalahan ini. Banyak mulut yang mencibir kalau semua itu adalaha nasib yang harus diterima sang ibu. Sadar dan buka mata!! Ini bukan nasib, ini adalah pilihan yang memang dipilih dari orang-orang yang memilih pilihannya. Pilihan menjadikan rahimnya menjadi sebuah mesin penghasil anak. Begitu menohok hati ketika mengetahui rahim yang begitu suci dan diindahkan telah menjadi alat untuk mengais kehidupan. Entah apa yang ada dalam pikiran wanita yang tidak segan menjual bayi kandungnya sendiri. 9 bulan lamanya mengandung, tidakah tumbuh benih-benih cinta pada anaknya? Sakitnya melahirkan menjadi jasa yang pantas untuk dibayar, seharga 500ribu.
Ketika hati nurani sudah terbiasa diasah, masihkah ada pasangan suami istri yang tega memesan seorang anak? Ketika moral sudah terpatri dalam setiap diri manusia, masihkah ada wanita kaya yang tega memberi uang sebesar 500 ribu untuk biaya persalinan dan 500 ribu membeli seorang bayi pada wanita yang miskin? Ini bukanlah garis tangan yang sudah tergores untuk para pasangan yang tidak mempunyai anak. Ini adalah pilihan mereka untuk memesan anak, 9 bulan sebelumnya di perumahan kumuh. Tahukah mereka? Bahwa masih banyak bayi-bayi diranjang panti asuhan, yang menunggu lembutnya belaian dari seorang ibu dan hangatnya dekapan sang ayah. Adanya alasan menjual anak karena terlalu banyak memiliki anak, kalau begitu bagaimana dengan program KB? Masihkah kurang sosialisasi program ini bagi mereka. Kalau begitu, tugas kita para pemuda adalah mensosialisasikan program KB yang sudah banyak tersedia diberbagai puskesmas, dengan segala media yang dapat kita gunakan. Jangan biarkan ada anak-anak lainnya yang terjual begitu saja.
Sesungguhnya tidak ada satupun manusia yang pantas menjual dan membeli seorang anak dan sesungguhnya tidak akan pernah ada harga yang pantas untuk membeli seorang anak manusia. Baik aborsi dan menjual anak, keduanya amatlah kejam. Ingatlah, Ketika seorang wanita berani menjual anaknya, maka ia menyerahkan nasib anaknya sendiri kepada manusia. Ketika seorang ibu tega menjual anaknya, maka ia tega mengadaikan masa depan anaknya. Belum tentu anak-anak yang telah dijual akan dirawat dengan baik oleh keluarga baru mereka. Bisa saja, organ-organ sang bayi diperjual belikan, atau sengaja dibeli untuk dipakai tenaganya, kelak ketika ia besar nanti. Itu artinya menjual belikan anak berarti menjual belikan masa depan bangsa. Kita harus sadar bahwa masa depan bangsa ada di dalam tanggan generasi muda. Tapi ketika cikal bakal generasi yang baru muncul sudah diperjual belikan. Bayangkan setiap satu orang anak meiliki sejuta kemungkinan. Ia mungkin menjadi penemu obat kanker, ia mungkin menjadi presiden, dokter yang menyelamatkan nyawa banyak orang, tentara yang siap membela bangsanya, calon menteri yang jujur bahkan ia juga berkemungkinan menjadi guru yang berdedikasi untuk bangsanya. Tapi nasib mereka yang diperdangangkan hancur seketika, apabila mereka jatuh pada tangan yang salah. Itu artinya memperdagangkan anak, memperdagangakan masa depan bangsa. Ini saatnya bagi kita para remaja untuk bergerak melakukan sesuatu! Lindungi bayi mungil bangsa dari perdagangan anak!
Siapa yang tahu pikiran dan niat seorang manusia, ketika seorang bayi ada ditangganya. Percayalah tidak ada ibu manapun yang mencintai anaknya melebihi ibu kandungnya sendiri.
By : Marga Rete -Duta Paramadina-

Komentar (1)
Ini adalah salah satu dari gejala penyakit sosial yg tak bisa dielakkan, karena itu pendidikan sangat penting bagi tiap individu , sebab ia bisa membentuk pola pikir seseorang dan yg paling penting ia adalah senjata paling ampuh untuk memberantas kemiskinan yg merupakan sumber dari segala bencana akut bagi umat manusia! Namun gua pesimis mengingat makin mahalnya biaya pendidikan yg membuat nya menjadi momok bagi sebagian orang tak mampu..
20 September 2010