Teruskan Semangat A.T Mahmud

Ditulis pada 22 August 2010 oleh ridwanachmad

“Miris” melihat sekelompok anak menyanyikan lagu cinta yang notabenya dinyanyikan oleh orang dewasa di sebuah ajang lomba media televisi. Kadang, lagu anak pun sempat ditampilkan, tapi hanya sekedar formalitas untuk membuat image “lomba menyanyi anak”. Selain dari segi lagu, segi penampilan pun tak pantas dipertunjukan oleh anak-anak. Dan lucunya, agar merubah image lagu dewasa menjadi anak-anak, tinggal merubah kata-kata yang berbau dewasa dengan kata-kata yang berbau anak-anak, seperti contoh “cinta=sahabat”, “kekasih=ibu”, dan masih banyak lagi.”Miris” melihat sekelompok anak menyanyikan lagu cinta yang notabenya dinyanyikan oleh orang dewasa di sebuah ajang lomba media televisi. Kadang, lagu anak pun sempat ditampilkan, tapi hanya sekedar formalitas untuk membuat image “lomba menyanyi anak”. Selain dari segi lagu, segi penampilan pun tak pantas dipertunjukan oleh anak-anak. Dan lucunya, agar merubah image lagu dewasa menjadi anak-anak, tinggal merubah kata-kata yang berbau dewasa dengan kata-kata yang berbau anak-anak, seperti contoh “cinta=sahabat”, “kekasih=ibu”, dan masih banyak lagi.

Dalam satu hari, kita jarang melihat video klip anak-anak di saluran tv nasional. Ada, tapi sangat sedikit dibandingkan lagu-lagu orang dewasa. Di siang hari, dimana anak-anak pulang sekolah, media malah menyuguhkan acara-acara musik bergenre dewasa, bahkan di pagi hari sekalian. Jadi jangan sepenuhnya salahkan orang tua, media turut serta dalam bobroknya mental generasi muda ini. Media membuat anak dewasa sebelum waktunya. Media mayoritas menayangkan acara yang tidak mendidik demi rating untuk mendapatkan sponsor, tanpa memperdulikan dampak apa yang akan terjadi di masyarakat. Jangan heran, zaman sekarang melihat anak SD sudah main pacar-pacaran, dan berita yang paling parah, akhir-akhir ini kita dikejutkan dengan video porno yang dilakukan anak SMP.

Berbeda dengan beberapa dekade ke belakang. Ketika Sherina Munaf, Joshua Suherman, Cikhita Meidy, Gionani, Zaskia, Enno Lerian, Tasya, dan beberapa penyanyi cilik lainnya, menjadi bintang diantara anak-anak. Lagu-lagu yang dinyanyikan pun berpendidikan, masih ingat dengan lagu “mari menabung” yang dinyanyikan Giovani, Zaskia dan titik puspa? atau lagu “katanya” yang dinyanyikan oleh Trio Kwek Kwek?.

Berbicara tentang lagu anak, pasti sudah tidak asing dengan maestro yang satu ini. Masagus Abdullah Mahmud atau dikenal dengan A.T Mahmud. Seorang maestro pencipta lagu anak anak yang lahir pada tanggal 3 Februari 1930 di palembang ini, mempopulerkan lagu anak-anak di Indonesia. Tahun 1969, A.T Mahmud berjuang mempublikasikan lagu anak ciptaannya melalui beberapa media, awalnya melalui media RRI (Radio Republik Indonesia) dan merambah ke dunia pertelevisian melalui acara Ayo Bernyanyi di TVRI pada tahun 1969. Acara Ayo Bernyanyi berlangsung selama 20 tahun secara kesinambungan. Akhirnya diakhiri dengan acara yang dibawakan oleh artis saat itu, tapi tidak bertahan lama.

Sempat lagu anak-anak yang ada di pasaran, berbeda dengan lagu yang diciptakan oleh A.T Mahmud, dan agak lain. Adanya rasa rindu akan lagu-lagu ciptaan A.T Mahmud, Bu Sud, dan Pak Kasur, membuat label musik Sony Music ingin memunculkan kembali lagu-lagu anak. Maka pada tahun 2000, Sony Music membuat album dengan penyanyi cilik Shafa Tasya Kamila (Tasya) membawakan 15 lagu pilihan ciptaan A.T Mahmud. Dan dari situ nama Tasya Si Gembala Sapi, melejit menjadi bintang penyanyi cilik di Indonesia.

A.T Mahmud meninggal pada hari Selasa, 6 Juli 2010, pukul 12.00 wib, wafat dalam usia 80 tahun di Jakarta. Kepergian beliau menyisakan perih yang mendalam, sosok yang memperjuangkan hak anak indonesia. Kita tidak akan bisa melihat beliau lagi, tapi kita hanya bisa mendengarkan karya-karya beliau. Kepergian beliau menandai hilangnya kepolosan anak-anak, dan bobroknya mental generasi yang akan datang. Seharusnya, kita bisa meneruskan semangat A.T Mahmud, membangun mental generasi baru yang positif.

Dalam satu hari, kita jarang melihat video klip anak-anak di saluran tv nasional. Ada, tapi sangat sedikit dibandingkan lagu-lagu orang dewasa. Di siang hari, dimana anak-anak pulang sekolah, media malah menyuguhkan acara-acara musik bergenre dewasa, bahkan di pagi hari sekalian. Jadi jangan sepenuhnya salahkan orang tua, media turut serta dalam bobroknya mental generasi muda ini. Media membuat anak dewasa sebelum waktunya. Media mayoritas menayangkan acara yang tidak mendidik demi rating untuk mendapatkan sponsor, tanpa memperdulikan dampak apa yang akan terjadi di masyarakat. Jangan heran, zaman sekarang melihat anak SD sudah main pacar-pacaran, dan berita yang paling parah, akhir-akhir ini kita dikejutkan dengan video porno yang dilakukan anak SMP.

Berbeda dengan beberapa dekade ke belakang. Ketika Sherina Munaf, Joshua Suherman, Cikhita Meidy, Gionani, Zaskia, Enno Lerian, Tasya, dan beberapa penyanyi cilik lainnya, menjadi bintang diantara anak-anak. Lagu-lagu yang dinyanyikan pun berpendidikan, masih ingat dengan lagu “mari menabung” yang dinyanyikan Giovani, Zaskia dan titik puspa? atau lagu “katanya” yang dinyanyikan oleh Trio Kwek Kwek?.

Berbicara tentang lagu anak, pasti sudah tidak asing dengan maestro yang satu ini. Masagus Abdullah Mahmud atau dikenal dengan A.T Mahmud. Seorang maestro pencipta lagu anak anak yang lahir pada tanggal 3 Februari 1930 di palembang ini, mempopulerkan lagu anak-anak di Indonesia. Tahun 1969, A.T Mahmud berjuang mempublikasikan lagu anak ciptaannya melalui beberapa media, awalnya melalui media RRI (Radio Republik Indonesia) dan merambah ke dunia pertelevisian melalui acara Ayo Bernyanyi di TVRI pada tahun 1969. Acara Ayo Bernyanyi berlangsung selama 20 tahun secara kesinambungan. Akhirnya diakhiri dengan acara yang dibawakan oleh artis saat itu, tapi tidak bertahan lama.

Sempat lagu anak-anak yang ada di pasaran, berbeda dengan lagu yang diciptakan oleh A.T Mahmud, dan agak lain. Adanya rasa rindu akan lagu-lagu ciptaan A.T Mahmud, Bu Sud, dan Pak Kasur, membuat label musik Sony Music ingin memunculkan kembali lagu-lagu anak. Maka pada tahun 2000, Sony Music membuat album dengan penyanyi cilik Shafa Tasya Kamila (Tasya) membawakan 15 lagu pilihan ciptaan A.T Mahmud. Dan dari situ nama Tasya Si Gembala Sapi, melejit menjadi bintang penyanyi cilik di Indonesia.

A.T Mahmud meninggal pada hari Selasa, 6 Juli 2010, pukul 12.00 wib, wafat dalam usia 80 tahun di Jakarta. Kepergian beliau menyisakan perih yang mendalam, sosok yang memperjuangkan hak anak indonesia. Kita tidak akan bisa melihat beliau lagi, tapi kita hanya bisa mendengarkan karya-karya beliau. Kepergian beliau menandai hilangnya kepolosan anak-anak, dan bobroknya mental generasi yang akan datang. Seharusnya, kita bisa meneruskan semangat A.T Mahmud, membangun mental generasi baru yang positif.


Komentar (2)

 


1 × seven =


  • _ _ _ _ _ _

    alhamdulillah…bangga saya jd pemuda indonesia karena kalian…kapan ya saya bisa berprestasi dan tidak hidup di bawah potensi diri…

    28 October 2010
  • Jeannie

    Anak-anak sekarang dipaksa untuk berkembang sebelum waktunya. Semoga saja ada yang masih peduli untuk menciptakan lagu anak-anak dan mempopulerkannya lagi.

    5 January 2011