<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Saatnya Suara KITA Didengar!</title>
	<atom:link href="http://shout.indonesianyouthconference.org/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://shout.indonesianyouthconference.org</link>
	<description>Indonesian Youth Conference</description>
	<lastBuildDate>Fri, 27 Aug 2010 10:53:23 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Teruskan Semangat A.T Mahmud</title>
		<link>http://shout.indonesianyouthconference.org/article/ridwanachmad/2432-teruskan-semangat-a-t-mahmud/</link>
		<comments>http://shout.indonesianyouthconference.org/article/ridwanachmad/2432-teruskan-semangat-a-t-mahmud/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Aug 2010 05:30:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ridwanachmad</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://shout.indonesianyouthconference.org/?p=2432</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Miris&#8221; melihat sekelompok anak menyanyikan lagu cinta yang notabenya dinyanyikan oleh orang dewasa di sebuah ajang lomba media televisi. Kadang, lagu anak pun sempat ditampilkan, tapi hanya sekedar formalitas untuk membuat image &#8220;lomba menyanyi anak&#8221;. Selain dari segi lagu, segi penampilan pun tak pantas dipertunjukan oleh anak-anak. Dan lucunya, agar merubah image lagu dewasa menjadi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;Miris&#8221; melihat sekelompok anak menyanyikan lagu cinta yang notabenya dinyanyikan oleh orang dewasa di sebuah ajang lomba media televisi. Kadang, lagu anak pun sempat ditampilkan, tapi hanya sekedar formalitas untuk membuat image &#8220;lomba menyanyi anak&#8221;. Selain dari segi lagu, segi penampilan pun tak pantas dipertunjukan oleh anak-anak. Dan lucunya, agar merubah image lagu dewasa menjadi anak-anak, tinggal merubah kata-kata yang berbau dewasa dengan kata-kata yang berbau anak-anak, seperti contoh &#8220;cinta=sahabat&#8221;, &#8220;kekasih=ibu&#8221;, dan masih banyak lagi.<span id="more-2432"></span></p>
<p>Dalam satu hari, kita jarang melihat video klip anak-anak di saluran tv nasional. Ada, tapi sangat sedikit dibandingkan lagu-lagu orang dewasa. Di siang hari, dimana anak-anak pulang sekolah, media malah menyuguhkan acara-acara musik bergenre dewasa, bahkan di pagi hari sekalian. Jadi jangan sepenuhnya salahkan orang tua, media turut serta dalam bobroknya mental generasi muda ini. Media membuat anak dewasa sebelum waktunya. Media mayoritas menayangkan acara yang tidak mendidik demi rating untuk mendapatkan sponsor, tanpa memperdulikan dampak apa yang akan terjadi di masyarakat. Jangan heran, zaman sekarang melihat anak SD sudah main pacar-pacaran, dan berita yang paling parah, akhir-akhir ini kita dikejutkan dengan video porno yang dilakukan anak SMP.</p>
<p>Berbeda dengan beberapa dekade ke belakang. Ketika Sherina Munaf, Joshua Suherman, Cikhita Meidy, Gionani, Zaskia, Enno Lerian, Tasya, dan beberapa penyanyi cilik lainnya, menjadi bintang diantara anak-anak. Lagu-lagu yang dinyanyikan pun berpendidikan, masih ingat dengan lagu &#8220;mari menabung&#8221; yang dinyanyikan Giovani, Zaskia dan titik puspa? atau lagu &#8220;katanya&#8221; yang dinyanyikan oleh Trio Kwek Kwek?.</p>
<p>Berbicara tentang lagu anak, pasti sudah tidak asing dengan maestro yang satu ini. Masagus Abdullah Mahmud atau dikenal dengan A.T Mahmud. Seorang maestro pencipta lagu anak anak yang lahir pada tanggal 3 Februari 1930 di palembang ini, mempopulerkan lagu anak-anak di Indonesia. Tahun 1969, A.T Mahmud berjuang mempublikasikan lagu anak ciptaannya melalui beberapa media, awalnya melalui media RRI (Radio Republik Indonesia) dan merambah ke dunia pertelevisian melalui acara Ayo Bernyanyi di TVRI pada tahun 1969. Acara Ayo Bernyanyi berlangsung selama 20 tahun secara kesinambungan. Akhirnya diakhiri dengan acara yang dibawakan oleh artis saat itu, tapi tidak bertahan lama.</p>
<p>Sempat lagu anak-anak yang ada di pasaran, berbeda dengan lagu yang diciptakan oleh A.T Mahmud, dan agak lain. Adanya rasa rindu akan lagu-lagu ciptaan A.T Mahmud, Bu Sud, dan Pak Kasur, membuat label musik Sony Music ingin memunculkan kembali lagu-lagu anak. Maka pada tahun 2000, Sony Music membuat album dengan penyanyi cilik Shafa Tasya Kamila (Tasya) membawakan 15 lagu pilihan ciptaan A.T Mahmud. Dan dari situ nama Tasya Si Gembala Sapi, melejit menjadi bintang penyanyi cilik di Indonesia.</p>
<p>A.T Mahmud meninggal pada hari Selasa, 6 Juli 2010, pukul 12.00 wib, wafat dalam usia 80 tahun di Jakarta. Kepergian beliau menyisakan perih yang mendalam, sosok yang memperjuangkan hak anak indonesia. Kita tidak akan bisa melihat beliau lagi, tapi kita hanya bisa mendengarkan karya-karya beliau. Kepergian beliau menandai hilangnya kepolosan anak-anak, dan bobroknya mental generasi yang akan datang. Seharusnya, kita bisa meneruskan semangat A.T Mahmud, membangun mental generasi baru yang positif.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://shout.indonesianyouthconference.org/article/ridwanachmad/2432-teruskan-semangat-a-t-mahmud/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lindungi Bayi Mungil Bangsa Dari Perdagangan Anak</title>
		<link>http://shout.indonesianyouthconference.org/article/margarete/2430-lindungi-bayi-mungil-bangsa-dari-perdagangan-anak/</link>
		<comments>http://shout.indonesianyouthconference.org/article/margarete/2430-lindungi-bayi-mungil-bangsa-dari-perdagangan-anak/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Aug 2010 11:32:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Marga Rete</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://shout.indonesianyouthconference.org/?p=2430</guid>
		<description><![CDATA[Bukankah bumi ini diciptakan, sebagai tempat agar mahluk hidup dapat saling mengasihi dan mencintai? Tapi ketika benih-benih sang pencinta hadir, mengapa mereka sudah harus menerima kenyataan untuk diperdagangkan? Bayangkan, mereka yang munggil, tak berdaya dan baru dapat bernafas serta menghirup udara segar dunia, seakan-akan tak pantas menerima hangatnya dekapan seorang wanita yang seharusnya dipanggil dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bukankah bumi ini diciptakan, sebagai tempat agar mahluk hidup dapat saling mengasihi dan mencintai? Tapi ketika benih-benih sang pencinta hadir, mengapa mereka sudah harus menerima kenyataan untuk diperdagangkan? Bayangkan, mereka yang munggil, tak berdaya dan baru dapat bernafas serta menghirup udara segar dunia, seakan-akan tak pantas menerima hangatnya dekapan seorang wanita yang seharusnya dipanggil dengan sebutan “Mama”.<span id="more-2430"></span></p>
<p>Kulitnya masih merah dan mata kecilnya belum dapat terbuka sempurna, tetapi identitasnya sudah disulap. Perdagangan anak begitu mudah bibir mengucap kata-kata tersebut, tetapi begitu sulit pikiran dan tenaga menyelesaikan masalah tersebut. Begitu sulitkah membangun kesadaran seorang wanita yang adalah seorang ibu, untuk tidak menjual anaknya sendiri? Ketika kita berbicara perihal cinta dimana cinta sang ibu untuk si mungggil, darah dangingnya sendiri? Sayang..sayang..seribu sayang.. orang-orang hanya dapat menyayangkan permasalahan ini. Banyak mulut yang mencibir kalau semua itu adalaha nasib yang harus diterima sang ibu. Sadar dan buka mata!! Ini bukan nasib, ini adalah pilihan yang memang dipilih dari orang-orang yang memilih pilihannya. Pilihan menjadikan rahimnya menjadi sebuah mesin penghasil anak. Begitu menohok hati ketika mengetahui rahim yang begitu suci dan diindahkan telah menjadi alat untuk mengais kehidupan. Entah apa yang ada dalam pikiran wanita yang tidak segan menjual bayi kandungnya sendiri. 9 bulan lamanya mengandung, tidakah tumbuh benih-benih cinta pada anaknya? Sakitnya melahirkan menjadi jasa yang pantas untuk dibayar, seharga 500ribu.</p>
<p>Ketika hati nurani sudah terbiasa diasah, masihkah ada pasangan suami istri yang tega memesan seorang anak? Ketika moral sudah terpatri dalam setiap diri manusia, masihkah ada wanita kaya yang tega memberi uang sebesar 500 ribu untuk biaya persalinan dan 500 ribu membeli seorang bayi pada wanita yang miskin? Ini bukanlah garis tangan yang sudah tergores untuk para pasangan yang tidak mempunyai anak. Ini adalah pilihan mereka untuk memesan anak, 9 bulan sebelumnya di perumahan kumuh. Tahukah mereka? Bahwa masih banyak bayi-bayi diranjang panti asuhan, yang menunggu lembutnya belaian dari seorang ibu dan hangatnya dekapan sang ayah. Adanya alasan menjual anak karena terlalu banyak memiliki anak, kalau begitu bagaimana dengan program KB? Masihkah kurang sosialisasi program ini bagi mereka. Kalau begitu, tugas kita para pemuda adalah mensosialisasikan program KB yang sudah banyak tersedia diberbagai puskesmas, dengan segala media yang dapat kita gunakan. Jangan biarkan ada anak-anak lainnya yang terjual begitu saja.</p>
<p>Sesungguhnya tidak ada satupun manusia yang pantas menjual dan membeli seorang anak dan sesungguhnya tidak akan pernah ada harga yang pantas untuk membeli seorang anak manusia. Baik aborsi dan menjual anak, keduanya amatlah kejam. Ingatlah, Ketika seorang wanita berani menjual anaknya, maka ia menyerahkan nasib anaknya sendiri kepada manusia. Ketika seorang ibu tega menjual anaknya, maka ia tega mengadaikan masa depan anaknya. Belum tentu anak-anak yang telah dijual akan dirawat dengan baik oleh keluarga baru mereka. Bisa saja, organ-organ sang bayi diperjual belikan, atau sengaja dibeli untuk dipakai tenaganya, kelak ketika ia besar nanti. Itu artinya menjual belikan anak berarti menjual belikan masa depan bangsa. Kita harus sadar bahwa masa depan bangsa ada di dalam tanggan generasi muda. Tapi ketika cikal bakal generasi yang baru muncul sudah diperjual belikan. Bayangkan setiap satu orang anak meiliki sejuta kemungkinan. Ia mungkin menjadi penemu obat kanker, ia mungkin menjadi presiden, dokter yang menyelamatkan nyawa banyak orang, tentara yang siap membela bangsanya, calon menteri yang jujur bahkan ia juga berkemungkinan menjadi guru yang berdedikasi untuk bangsanya. Tapi nasib mereka yang diperdangangkan hancur seketika, apabila mereka jatuh pada tangan yang salah. Itu artinya memperdagangkan anak, memperdagangakan masa depan bangsa. Ini saatnya bagi kita para remaja untuk bergerak melakukan sesuatu! Lindungi bayi mungil bangsa dari perdagangan anak!<br />
Siapa yang tahu pikiran dan niat seorang manusia, ketika seorang bayi ada ditangganya. Percayalah tidak ada ibu manapun yang mencintai anaknya melebihi ibu kandungnya sendiri.<br />
By : Marga Rete -Duta Paramadina-</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://shout.indonesianyouthconference.org/article/margarete/2430-lindungi-bayi-mungil-bangsa-dari-perdagangan-anak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Untuk Negara Kami</title>
		<link>http://shout.indonesianyouthconference.org/article/olipo/2428-untuk-negara-kami/</link>
		<comments>http://shout.indonesianyouthconference.org/article/olipo/2428-untuk-negara-kami/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Aug 2010 18:19:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>olipo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://shout.indonesianyouthconference.org/?p=2428</guid>
		<description><![CDATA[Kami ingin pemimpin yang bertanggung jawab tidak hanya yang rahin menjual janji
Kami ingin pemimpin yang tegas yang bisa memberantas semua kejahatan di negara kami.
Kami ingin negara kami dipimpin oleh seorang pemimpin yang jujur, bukan mereka-mereka yang hobi membohongi kami
Kami ingin kata makmur di negara kami menjadi mayoritas bukan minoritas
Kami ingin negara kami tegak hukum bukan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kami ingin pemimpin yang bertanggung jawab tidak hanya yang rahin menjual janji<br />
Kami ingin pemimpin yang tegas yang bisa memberantas semua kejahatan di negara kami.<br />
Kami ingin negara kami dipimpin oleh seorang pemimpin yang jujur, bukan mereka-mereka yang hobi membohongi kami<br />
Kami ingin kata makmur di negara kami menjadi mayoritas bukan minoritas<br />
Kami ingin negara kami tegak hukum bukan kebal hukum<span id="more-2428"></span><br />
Kami ingin bahagia di negara kami, dengan kekayaan yang negara kami miliki, bukan dengan hutang yang setiap tahun harus kami bayar<br />
Kami ingin bukti bukan janji-janji semata yang rajin diumbarkan 5 tahun sekali<br />
Kami ingin pembayaran pajak kami dipakai untuk membangun negara kami, bukan untuk membiayayi pemerintah kami untuk membeli mobil nan mewah dan rumah yang indah<br />
Kami ingin pemerintah kami mempunyai rasa malu kepada rakyatnya, bukan secara terang-terangan mempermalukan diri didepan kami<br />
Kami ingin maju kami ingin bangkit kami ingin berubah menjadi emas<br />
Pemerintah yang Seharusnya seperti apa yang kami pilih?<br />
Apa kami salah memilih penjahat untuk menjadi pejabat?<br />
Apa wajah pemerintah sekarang yang harus kami banggakan dan patut kami contohkan untuk anak cucu kami?<br />
Apa keadilan seperti sekarang yang akan turun menurun untuk anak cucu kami<br />
Apa hanya mereka yang beruang yang bisa membeli negara kami<br />
Apa hanya mereka yang bisa hidup bermewah-mewahan, mereka-mereka yang hidup di kursi singasana<br />
Apa rakyat kecil seperti kami yang harus rela setiap hari menunggu nasip yang tak kunjung berubah<br />
Kami menangis, kami bersedih melihat para petinggi kami yang bertengkar di depan layar kaca kami<br />
Kami bingung, kami termenung apa yang sebenarnya terjadi di Negara kami<br />
Yang kami tau negara kami indah, asri, subur dan kaya akan moral<br />
Apa pemerintahan kami sudah seburuk seperti apa yang kami pikirkan<br />
Atau apa mungkin mereka berjuang untuk mereka bukan untuk kami<br />
Kami bukan patung, kami bukan hiasaan dan kami bukan boneka yang hanya bisa diam dan mengangguk lesu<br />
Kami mempunyai hak<br />
Kami mempunyai kewajiban<br />
Kami mempunyai wewenang untuk negara kami<br />
Kami sedih melihat opnum penjahat di negara kami yang dengan bebas berkeliaran di negara kami<br />
Kami sedih melihat tikus-tikus negara yang setiap saat menggerogoti harta kami<br />
Mungkin kami hanya bisa berdiam diri dan berserah kepada tuhan<br />
Tapi tidak, kami ingin perubahan, kami tidak akan menyerah<br />
Kami akan tetap mencari hati nurani petinggi kami, agar mereka merasa apa yang kami rasakan<br />
Kami ingin memiliki hukum<br />
Kami ingin ketegasan hukum<br />
Kami tidak ingin hukum kami dengan mudah di beli dengan mata uang kami<br />
Kami ingin bebas<br />
Bebas dari koruptor yang setiap detik memperpuruk hidup kami<br />
Kami ingin damai<br />
Dari kebisingan-kebisingan kebohongan yang pandai di janjikan<br />
Kami ingin bukti<br />
Dari semua perkataan yang sudah mereka jual<br />
Apa kami sedang dijajah di negara kami?<br />
Atau kami masih mencari kemerdekaan?<br />
Mencari jati diri negara kami<br />
Apa masih ada nilai-nilai pancasila di hati negara kami<br />
Apa merah putih masih mewarnai hati negara kami?<br />
Apa Undang-undang masih tertananam baik di hati negara kami?<br />
Atau mereka sudah tercoreng dengan tingkah kami<br />
Bukan ini yang kami harapkan bukan ini yang kami banggakan<br />
Kami bangga bangsa kami dapat menghidupkan nilai moral<br />
Mari merenung<br />
Mari memikirkan matang-matang masalah kami<br />
Mari mencari kesalahan didiri kami sendiri, hendak kelak kami bisa merubahnya<br />
Kami bersuara untuk dijalankan<br />
Kami berbuat untuk diamalkan<br />
Untuk membela bumi pertiwi kami<br />
Hukum kami sekokoh banbu runcing<br />
Hukum kami nan tiang yang tegak di terjang ombak<br />
Pemimpin kami pemimpin amanah yang seperti kami banggakan<br />
Pemimpin kami pemimpin yang mulia di mata kami<br />
Pemimpin kami pemimpin yang membanggakan untuk kami ceritakan<br />
Pemimpin kami pemimpin yang  berjiwa patriot sejati yang rela membangun bumi pertiwi<br />
Dari kami untuk kami untukmu Indonesia </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://shout.indonesianyouthconference.org/article/olipo/2428-untuk-negara-kami/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Halo Indonesia!</title>
		<link>http://shout.indonesianyouthconference.org/article/sheanyyastaj/2426-halo-indonesia/</link>
		<comments>http://shout.indonesianyouthconference.org/article/sheanyyastaj/2426-halo-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Jul 2010 14:21:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sheanyyastaj</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://shout.indonesianyouthconference.org/?p=2426</guid>
		<description><![CDATA[Pertama kalinya saya akan mencoba serius dengan blogging activity, I decided untuk mendedikasikannya pada Indonesia. Intinya, di blog ini saya akan menulis bermacam-macam hal tentang Indonesia. Entah itu opini pribadi, politik, sejarah, de-el-el tentang Indonesia deh pokoknya. Kalo misalnya tulisan saya masih terlihat amatur dan tidak profesional… well, pardon me – I’m just a teenager. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pertama kalinya saya akan mencoba serius dengan blogging activity, I decided untuk mendedikasikannya pada Indonesia. Intinya, di blog ini saya akan menulis bermacam-macam hal tentang Indonesia. Entah itu opini pribadi, politik, sejarah, de-el-el tentang Indonesia deh pokoknya. Kalo misalnya tulisan saya masih terlihat amatur dan tidak profesional… well, pardon me – I’m just a teenager. But I’m trying, and I just wanna say and share to the world how fascinating Indonesia is, and how much I love Indonesia.<span id="more-2426"></span> </p>
<p>Dunia sekarang sudah modern, apa-apa serba teknologi. Barang-barang bermerek internasional yang dulu susah didapatkan, sekarang bisa dengan mudah dibeli lewat Internet dan besoknya sudah ada di tangan – begitulah hebatnya zaman sekarang. Namun apakah kita benar-benar sadar dampak negatif yang ditimbulkan oleh revolusi teknologi ini? Saya rasa tidak. Karena saya melihat banyak sekali muda mudi yang juga teman-teman saya yang terbelakang mengenai Negara mereka sendiri, yakni Indonesia. Sangat menyedihkan. Bukannya saya lebih tahu daripada mereka, namun saya bisa melihat bahwa mereka cuek terhadap masa depan Negara Indonesia, dan juga tidak ikut andil dalam memperkembangkan Indonesia sebagai bangsa yang kokoh dan satu. Jadinya yah, tidak ada kemajuan sama sekali di Negara kita ini. Masyarakatnya saja tidak peduli, bagaimana Negara mau maju?</p>
<p>Nah, kembali ke topik “modern” tadi. Banyak banget lho, yang merasa kalo segala sesuatu hal itu bisa dibeli dengan uang, dan mereka tidak perlu mempermasalahkan hal-hal lainnya. Yang mau hidup makmur, HARUS berangkat ke Eropa atau Amerika. Yang mau hidup enak, HARUS meninggalkan Indonesia. Yang mau hidup terjamin, HARUS cari pasangan dari luar negeri. Seakan-akan ada peraturan tidak tertulis yang di pahat di benak semua orang Indonesia, yang menjadikan mereka orang-orang yang tidak cinta bangsa. Kok jadi begini ya? Memang apa salahnya dengan Indonesia?<br />
Kita engga bisa memungkiri kalo Indonesia memang baru developing country, dan kita masih memiliki masalah di mana-mana yang harus dipecahkan – tapi itu bukan berarti kita harus berpaling dari Negara sendiri, bukan? Saya percaya Indonesia memiliki banyak potensi untuk menjadi Negara hebat, yang dikagumi seluruh dunia – namun hal itu akan menjadi tidak mungkin jika orang Indonesia sendiri tidak berusaha untuk mengembangkan bangsa ini. Saya pernah melihat teman-teman saya mengakui bahwa mereka bukan orang Indonesia, dan meskipun mereka tidak terus terang bicara, saya tahu kalo mereka itu “malu” jika dibilang orang Indonesia. Apa yang salah dengan Indonesia? Well, opini orang akan bervariasi, mereka semua punya alasan. Namun alasan mereka buat saya bullshit. Mereka harusnya malu dengan kelakuan mereka, dan malu mengakui mereka berasal dari Negara lain – ketika Indonesia kaya akan beragam macam hal. </p>
<p>Semua hal itu bisa dicapai dengan berusaha, dan berjalannya waktu. Ngga ada yang instan, di abad ini sekali pun. Kalo kamu ingin Indonesia dikenal sebagai bangsa yang hebat, kamu juga yang harus memulai membuat perubahan – dari diri sendiri. Dimana pun kamu berada, meskipun kamu tidak pernah melakukan hal-hal buruk seperti mengakui kamu bukan orang Indonesia, cobalah buka mata dan pikiranmu – apa yang sudah kamu lakukan untuk Indonesia? Jika kamu benar-benar percaya, deep down in your heart, that what you did is more than enough, then that’s good for you. Tapi menurut saya, jika kamu sudah berhenti berusaha, maka kamu sesungguhnya belum melakukan apa pun. </p>
<p>Take a step, take a deep breath, and open your eyes. Indonesia adalah Negara yang sangat mengagumkan. There are no enough words to describe how amazing Indonesia really is. Namun semua itu tersembunyi di politik kotor, korupsi, kemiskinan, masalah sosial dan hal-hal lain yang menjadi pokok permasalahan di Negara kita. Kita menjadi buta, dan berhenti percaya pada potensi bangsa ini. Sekarang waktunya berubah. Tidak ada lagi komplain ini dan itu. Kalo kamu ingin Indonesia berubah, maka suarakan keinginanmu. Caranya? Banyak sekali. Think outside of the box, not everything has to go through the superiors of the Governments. Dan kalo kamu sudah menemukan caranya, jangan pernah putus asa. Jangan menyerah jika kamu tau apa yang kamu lakukan itu benar. </p>
<p>Go green, go against corruption, support healthy life, save the forest – whatever your cause maybe, just stick to it. Saya percaya bahwa kamu bisa, dan saya juga akan mulai melakukan hal yang benar demi bangsa Indonesia. Karena selama kita masih muda, masa depan Indonesia ada di tangan kita. Kalo bukan kita, siapa lagi? Be proud for being Indonesian – not a lot of people has that privilege. <img src='http://shout.indonesianyouthconference.org/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://shout.indonesianyouthconference.org/article/sheanyyastaj/2426-halo-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Proud to be yourself!</title>
		<link>http://shout.indonesianyouthconference.org/article/reggievia/2424-proud-to-be-yourself/</link>
		<comments>http://shout.indonesianyouthconference.org/article/reggievia/2424-proud-to-be-yourself/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Jul 2010 16:49:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Reggievia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://shout.indonesianyouthconference.org/?p=2424</guid>
		<description><![CDATA[Pernah merasa nggak puas sama diri sendiri? Membandingkan kelemahan sendiri dengan kelebihan orang lain? Atau merasa orang lain jauh lebih hebat dari diri sendiri?
Membandingkan disini maksudnya seperti ini: &#8220;kok dia jauh lebih cantik ya dari gue?&#8221; atau &#8220;kok dia bisa main gitar gue nggak bisa?&#8221;. Hal seperti ini wajar terjadi, apalagi sebagai manusia yang nggak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pernah merasa nggak puas sama diri sendiri? Membandingkan kelemahan sendiri dengan kelebihan orang lain? Atau merasa orang lain jauh lebih hebat dari diri sendiri?</p>
<p>Membandingkan disini maksudnya seperti ini: &#8220;kok dia jauh lebih cantik ya dari gue?&#8221; atau &#8220;kok dia bisa main gitar gue nggak bisa?&#8221;. Hal seperti ini wajar terjadi, apalagi sebagai manusia yang nggak pernah puas sama apa yang dipunya. Padahal, kita semua diajarin untuk mengsyukuri apa yang ada (bahkan ada lagunya kan? :p). Jujur, saya yang dulu jarang banget membandingkan diri sendiri dengan orang lain, entah kenapa belakangan ini jadi suka membandingkan diri dengan teman sendiri, khususnya dalam hal nilai di kampus.<span id="more-2424"></span></p>
<p>Saya punya seorang teman di kampus yg bertipe nggak perlu belajar cape-cape untuk nilai tinggi, belajar pas hari-h nilai 8 atau 9 pasti bisa didapat. Kalau saya, musti belajar jauh-jauh hari, berjam-jam setiap harinya demi mendapatkan nilai yang tinggi, apalagi kalau mau ujian akhir semester. Tiap hasil ujian keluar, saya pasti langsung bertanya dalam hati, &#8220;dia dapat berapa ya?&#8221; mestinya saya cukup tanya nilai sendiri aja, tapi malah pusing mikirin nilai orang, aneh kan? Setelah tahu nilai dia lebih tinggi dari saya, saya pasti langsung tidak senang dan memaki diri sendiri, &#8220;kamu tuh belajar lebih serius dari dia, kenapa nilaimu lebih rendah??&#8221;. </p>
<p>Karena pusing sama diri sendiri yang kayak gini, akhirnya kemarin ini cerita sama sang adik tercinta. Si adik bertipe sama dengan teman saya, jadi dia ngerti keadaan yang saya alami. Dia sendiri merasa punya saingan di sekolah (saya bingung, adik saya ini pintar banget, masih ada yang lebih pintar dari dia? Well, rumput tetangga pasti lebih hijau). Tapi dia nggak membandingkan diri dia dengan saingannya itu, dia membuat sebuah &#8220;persaingan sehat&#8221; dengan menganggap saingannya itu sebagai motivasi supaya dia belajar lebih lagi. <b>Jangan liat kelemahan diri sendiri, tapi lihat kelebihan diri sendiri itu kuncinya</b>. Setiap orang beda-beda kok, kamu beda, dia beda, nggak ada yang sama. Feel better setelah adik bilang seperti gitu, dan hari itu juga saya langsung merubah pola pikir selama ini dan belajar lebih baik lagi. </p>
<p>So, stop membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Jadikan orang lain sebagai &#8220;bahan pelajaranmu&#8221;, bukan sebagai perbandingan bagi dirimu. Kamu akan merasa jauh lebih baik jika mempunyai pikiran seperti itu. Saya sudah membuktikannya, tinggal kamu yang mempraktekkannya sendiri. Proud to be yourself! </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://shout.indonesianyouthconference.org/article/reggievia/2424-proud-to-be-yourself/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bukan Bangsa Kemarin Sore</title>
		<link>http://shout.indonesianyouthconference.org/article/ninosa/2422-bukan-bangsa-kemarin-sore/</link>
		<comments>http://shout.indonesianyouthconference.org/article/ninosa/2422-bukan-bangsa-kemarin-sore/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Jul 2010 12:55:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rahmat Sah Saragih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://shout.indonesianyouthconference.org/?p=2422</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;We could learn a lot from crayons: some are sharp, some are pretty, some are dull, some have weird names, and all are different colors. But they all have to learn to live in the same box.”
- Anonim-
Tahun lalu, saya berkesempatan untuk bertemu dengan sekitar 50-an remaja sebaya dari seluruh Indonesia. Bukan untuk mengikuti ajang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>&#8220;We could learn a lot from crayons: some are sharp, some are pretty, some are dull, some have weird names, and all are different colors. But they all have to learn to live in the same box.”<br />
- Anonim-</p></blockquote>
<p>Tahun lalu, saya berkesempatan untuk bertemu dengan sekitar 50-an remaja sebaya dari seluruh Indonesia. Bukan untuk mengikuti ajang Olimpiade Sains Nasional seperti yang selalu saya damba-dambakan, melainkan karena kesamaan di antara kami, yakni kepedulian akan ekosistem terumbu karang di Indonesia. Selama kurang lebih empat hari, kami dikumpulkan untuk mendapatkan pembekalan mengenai konservasi kelautan.<span id="more-2422"></span></p>
<p>Terlepas dari semua itu, pertemuan dengan sahabat-sahabat dari berbagai daerah maritim di penjuru kepulauan—termasuk perwakilan dari kawasan terpencil seperti Nias, Mentawai, Natuna, Banggai, Selayar, Sangihe-Talaud, dan Raja Ampat, secara tak sengaja telah membuka mata saya. Mungkin dari ketujuh nama di atas, ada beberapa yang terdengar asing di telingamu—atau bahkan semuanya. Tetapi begitulah. Tempat itu betul-betul ada. Begitu pula mereka.</p>
<p>Tak seperti di buku RPUL, kali itu saya melihatnya secara nyata. Sebuah diversitas bangsa yang terbagi-bagi atas suku dan ras, dengan perbedaan bahasa, logat, pakaian, bahkan cara tersenyum yang seolah-olah membuka mata saya tentang Indonesia yang sesungguhnya. Indonesia yang berbeda.</p>
<p><b>Devide et Impera</b></p>
<p>Berbicara diversitas, kita berbicara budaya. Budaya bisa dikatakan sebagai suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya merupakan hal yang sangat kompleks, abstrak, dan luas karena mengandung berbagai sistem dan nilai yang telah diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari sehingga dapat digunakan sebagai logika tentang mana yang benar (terpuji) dan salah (tercela). Karena kemampuan manusia untuk beradaptasi sangat tinggi—dibuktikan dengan mampunya kita menghindari kepunahan, setidaknya hingga detik ini—maka perkenalan manusia dengan budaya di sekelilingnya sudah sewajarnya terjadi semenjak usia dini. Anak-anak. Mereka mengenal dan dikenalkan oleh keluarganya tentang bagaimana pola hidup serta hal-hal yang dianggap lumrah untuk dilakukan dalam budaya mereka.</p>
<p>Misalnya saya—yang lahir di tengah keluarga campuran Batak dan Jawa—harus mengikuti prosesi tedhak sinten (turun tanah) di umur dua tahun, yang merupakan salah satu ritual selametan ala Jawa ketika seorang balita mulai bisa berjalan. Namun, di saat yang bersamaan, saya juga mengenal sebutan amang, inang, opung, tulang, namboru, yang merupakan panggilan untuk anggota keluarga dalam bahasa Batak.</p>
<p>Maka, kondisi yang paling baik dalam pentransferan nilai dan norma budaya kepada pihak lain adalah ketika sang subjek penerima masih kecil. Di mana mereka belum menerima terlalu banyak input yang mampu melawan setiap doktrin-doktrin dari lingkungan sekitar. Dan apa yang mereka dapat itulah yang kemudian menjadi landasan pola pikir mereka. Akan terus berlanjut hingga menginjak kedewasaan.</p>
<p>Sehingga bukanlah sesuatu yang patut diragukan jika dikatakan bahwa anak-anak merupakan penerus budaya bangsa, karena dari masa itulah mereka mulai menerima input budaya secara efektif. Anak-anak senang menyerap apa yang mereka terima. Semakin bertambahnya usia, maka penerimaan tersebut akan semakin sulit, dan cenderung kurang berhasil. Jadi begitulah siklus pewarisan nilai dan norma budaya. Kita patut bersyukur karena dalam budaya kita—baik yang tinggal di ujung Aceh hingga pelosok Papua—anak-anak selalu dilibatkan dalam kehidupan berbudaya, apapun bentuknya itu.</p>
<p>Tetapi, apakah kita—sebagai generasi yang hidup di zaman yang selalu berubah ini—masih harus mempertahankan nilai-nilai yang bertentangan dengan kemanusiaan? Kita mungkin telah dibentuk sedemikian rupa, dengan budaya yang kita miliki masing-masing sehingga terbentuk pula nilai-nilai logika yang menjadi prinsip hidup kita. Tetapi ada kalanya kita perlu menyadari, bahwa tidak semua yang kita peroleh dengan embel-embel tradisi itu patut diterapkan.</p>
<p>Semua hal mempunyai sisi negatif dan positifnya masing-masing. Begitu juga budaya. Ada hal-hal positif yang memang patut diwariskan kepada generasi penerus karena merupakan akar kepribadian yang mencerminkan kita sebagai bangsa beradab, manusiawi, berkesenian, dan berpendirian teguh. Kita mempunyai masa lalu yang kelam sebagai negara jajahan selama tiga abad lebih, dan tentu prinsip-prinsip yang kuat perlu ditanamkan kepada anak-anak penerus bangsa agar hal itu tidak terulang lagi.</p>
<p>Tetapi apakah kita sudah mampu memaknai budaya itu sendiri bagi kehidupan kita? Saya rasa tidak demikian. Buktinya, budaya negatif ternyata masih saja tetap diturunkan oleh orang tua dengan tanpa rasa bersalah kepada anak-anaknya. Memang tidak semuanya begitu, saya katakan, tetapi sekecil apapun porsi yang diwariskan, maka itu akan tetap mengakar kuat di bangsa kita sampai kapanpun.</p>
<p>Kembali ke masa penjajahan di Nusantara ratusan tahun lalu. Ketika itu Belanda melancarkan praktik devide et impera yang merupakan gabungan dari sistem politik, militer, dan ekonomi yang bertujuan untuk memecah-belah berbagai suku yang ada di Nusantara dengan cara adu domba. Hal tersebut cukup sukses. Melihat kondisi Nusantara yang terdiri dari kepulauan, Belanda melihat banyaknya perbedaan yang dimiliki oleh masing-masing wilayah, dan dari situ mereka melihat kesempatan untuk memanfaatkannya sebagai senjata penghancur. Yang perlu mereka lakukan hanya memanaskan ujung sumbu, dan biarlah api merambat dengan sendirinya.</p>
<p>Lihatlah apa yang terjadi saat ini! Meski Nusantara telah mengalami asam-basa perjuangan sebuah bangsa, berubah kian-kemari dari Republik Indonesia, lalu Republik Indonesia Serikat, dan kembali lagi menjadi negara kesatuan, ada satu masalah yang tak kunjung usai—dan semakin parah karena pola pikir tradisional kini dihadapkan pada pola pikir modern yang menciptakan berbagai kontradiksi. Sehingga terkadang kita sulit menentukan mana yang benar dan salah. Lalu muncul opsi lain sebagai kegagapan kita mengadaptasi dunia: agak benar dan agak salah.</p>
<p><b>Sinetron dan Komedi Slapstick</b></p>
<p>Kemampuan bertoleransi, hal yang seharusnya sudah tak perlu dipertanyakan lagi mengingat bukan kemarin sore Indonesia hidup dengan ratusan suku dan etnis, tetapi sudah berabad-abad lamanya. Tetapi toleransi bangsa Indonesia—saya katakan—seakan semu.</p>
<p>Sekilas, cacatnya toleransi terasa kurang nyata. Bagai gunung es yang masih terselubung di bawah permukaan laut, menunggu laut surut untuk menampakan taring tajamnya. Hal ini sangat dirasakan oleh mereka yang ”diminoritaskan” oleh kaum yang merasa dirinya mayoritas. Mengapa saya menyebut ”diminoritaskan”? Kondisi ini sama saja dengan orang-orang yang ”dimiskinkan” pada era 1998. Hadirnya mereka sebagai kaum yang dipojokkan, dianggap minoritas, merupakan suatu kesengajaan—hasil sistem budaya yang diterapkan masyarakat saat ini.</p>
<p>Pembedaan. Ya. Itulah yang kemudian terjadi ketika perbedaan—yang memang sewajarnya hadir di tengah-tengah kita sebagai bangsa plural—dianggap sebagai sesuatu yang tidak bisa diterima dan dianggap hanya akan mengganggu kelancaran sistem budaya. Korban budaya.</p>
<p>Diskriminasi terhadap umat beragama terterntu, misalnya. Hanya karena mereka menganut aliran yang terdengar asing di telinga kita, lantas kita berkoar-koar menuduhnya aliran sesat, dan melakukan pemberantasan layaknya mengusir penyihir. Apakah hanya karena mereka tidak menganut kepercayaan yang diizinkan oleh pemerintah maka mereka harus diperlakukan seperti itu?</p>
<p>Diskriminasi terhadap LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transeksual). Apakah hanya karena mereka memiliki orientasi seksual dan penampilan yang berbeda, membuat orang-orang sekitar—yang mencap diri mereka normal—merasa jijik dan pantas untuk melakukan kekerasan terhadap mereka? Seolah-olah mereka adalah sampah masyarakat, bentuk kegagalan dari sebuah sistem peradaban. Dan yang lebih parah lagi, ”kaum normal” menggunakan panji-panji agama sebagai dalil atas tindakan tersebut.</p>
<p>Diskriminasi terhadap etnis atau ras tertentu. Etnis yang dianggap menyandang stereotype negatif bahwa mereka merupakan benih-benih separatisme, berpendidikan rendah dan terbelakang, berperilaku sadis. Atas dasar apa sebuah stereotype bisa menempel kepada golongan etnis atau ras hanya karena segelintir orang dari mereka yang melakukan tuduhan itu?</p>
<p>Diskriminasi terhadap penyandang cacat, baik itu cacat fisik maupun mental. Apakah mereka—yang terlahir cacat—pernah memilih untuk dilahirkan? Media hiburan memegang peranan besar dalam eksploitasi penyandang cacat; dengan adanya sinetron dan komedi slapstick yang menjadikan kecacatan sebagai bahan lelucon untuk ditertawakan melampaui batas kemanusiaan. Tidakkah kita ingat, bahwa kita sama-sama diciptakan dari satu sel ovum dan satu sel sperma? Dan ”kenormalan” kita hanyalah wujud lain dari keanekaragaman itu sendiri. Jadi, mengapa harus tertawa?</p>
<p>Ironisnya, inilah realita yang diserap oleh anak-anak Indonesia. Kenyataan yang diturunkan oleh generasi di atas mereka. Pandangan bahwa kubu mayoritas dan minoritas nyata adanya. Pandangan bahwa normal dan abnormal tanpa meninjau ulang kemanusiaan benar adanya.</p>
<p>Akankah sistem seperti ini yang diwariskan kepada anak dan cucu kita? Sistem yang mempermasalahkan perbedaan, menciptaan kebencian dan pembedaan—di saat kita seharusnya menyadari bahwa perbedaan itu sangat wajar dan memang seharusnya terjadi. Apakah agama harus dijadikan perisai pembelaan diri untuk mengatakan bahwa LGBT adalah makhluk kotor dan dibenci Tuhan? Bukankah agama mengajarkan kita untuk saling toleran, menghargai perbedaan yang sengaja diciptakan Tuhan agar kita bisa saling mengisi?</p>
<p><b>Filter Budaya</b></p>
<p>Teman, mengapa bangsa Barat mampu memiliki nilai toleransi yang tinggi terhadap kaum-kaum ”terminoritaskan”? Kita melihat pernikahan sesama gender dilegalkan di Belanda, warna kulit bukan masalah dalam pemilu presiden di Amerika Serikat, hak penyandang cacat dihormati dan dipenuhi di jalan-jalan publik di banyak negara maju, keragaman kepercayaan dibiarkan berkembang selama tidak mengganggu masyarakat.</p>
<p>Saya kira inilah bentuk pandangan di mana manusia mampu melihat sesamanya secara equal. Pandangan bahwa Hak Asasi Manusia (HAM) merupakan panji yang menangguhkan keberadaan manusia sebagai makhluk yang patut dihormati—bagaimana pun bentuknya.</p>
<p>Bisakah Indonesia mengadopsi hal seperti itu?</p>
<p>Kita semua paham bahwa—sama seperti budaya kita—budaya Barat juga mempunyai sisi positif dan negatif. Dan tentu kita harus bijak menyaring mana yang mampu diaplikasikan di negara kita dan mana yang tidak. Tetapi, apakah hanya budaya Barat yang berkewajiban untuk disaring?</p>
<p>Filter budaya. Sudah seharusnya mesin ini tidak hanya digunakan untuk menyaring budaya luar, tetapi juga budaya dalam. Kita harus cermat memandang sesuatu secara objektif. Bukan hanya karena hal itu telah “mengakar” maka kita harus tetap mempertahankannya sampai ras kita punah, tetapi kita harus mengevaluasi dampak-dampaknya bagi kehidupan dan relevansinya terhadap zaman yang kita hadapi.</p>
<p><b>Peluang dan Kombinasi, Permainan Tuhan</b></p>
<p>HAM merupakan harga yang tak bisa ditawar. Jika NKRI adalah harga mati, maka saya lebih suka menyebut HAM adalah harga hidup. Selain UUD 1945, Indonesia juga mempunyai UU No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia dan UU No. 40 Tahun 2008 tentang Penghapusan Diksriminasi Ras dan Etnis. Ketiganya mengatur kehidupan bertoleransi dalam berbangsa dan bernegara. Dalam norma agama—tak perlu ditanya lagi—dialah sumber perintah tentang toleransi—yang tertua—yang pernah hadir di Bumi. Sebuah pesan tersurat dari Tuhan yang terkadang sering kita salahartikan.</p>
<p>Tidakkah negeri ini menjadi lebih damai bila kita hidup dalam toleransi? Ketika anak-anak Indonesia bisa hidup di lingkungan yang penuh ketentraman dalam perbedaan, diversitas yang diusung menjadi kebanggaan dan saling isi satu sama lain. Bukankah ini yang kita cita-citakan? Alih-alih mencari kemenangan melalui perang mulut dan drama politik yang tak berujung, saatnya kembali melirik jati diri kita sebagai manusia.</p>
<p>Kita mempunyai hak untuk merasa aman, untuk dianggap, untuk bisa mendapat pendidikan, inilah yang seharusnya mulai kita perjuangkan sedari sekarang, dengan cara mengenalkan kepada anak-anak, teman-teman, dan keluarga kita, betapa indahnya toleransi dalam diversitas.</p>
<p>Kemajuan peradaban sangat mungkin terjadi jika kita menerapkan sikap toleransi. Semua pihak akan merasa mempunyai kesempatan yang sama untuk bersaing secara sehat. Semua bidang akan terpacu untuk berkembang. Imbasnya, tentu saja kemajuan bagi negara itu sendiri. Maukah Indonesia mencobanya?</p>
<p>Dari perjumpaan dengan sahabat-sahabat daerah tahun lalu, saya bisa menyimpulkan bahwa diversitas itu benar adanya. Tetapi lebih dari itu, saya juga melihat adanya sebongkah semangat. Semangat anak daerah yang mengalami ketidakadilan semacam ini, semangat anak daerah yang optimis akan perkembangan diri dan tetap menjadi diri mereka sendiri meski terlahir berbeda—kumpulan semangat yang seolah-olah membentuk semangat bangsa yang menginginkan adanya perubahan pada negeri ini. Saya beruntung bisa mengenal mereka, anak-anak kepulauan yang kuat dan bercita-cita tinggi.</p>
<p>Banyak pertanyaan dalam tulisan ini. Saya yakin jawabannya sudah ada di dalam hati Teman-teman. Ini semua hanyalah permainan peluang dan kombinasi yang Tuhan sedang ajarkan kepada kita. Siapa yang mendapat warna merah, siapa yang mendapat warna biru, warna hijau, warna kuning—kita sebagai anak-anak bangsa harus mampu menyatukannya ke dalam sebuah kotak. Kotak raksasa penuh warna-warni krayon yang kita namakan Indonesia.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://shout.indonesianyouthconference.org/article/ninosa/2422-bukan-bangsa-kemarin-sore/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Genre, Orang Bilang Seperti Itu.</title>
		<link>http://shout.indonesianyouthconference.org/article/galihusni/2416-genre-orang-bilang-seperti-itu/</link>
		<comments>http://shout.indonesianyouthconference.org/article/galihusni/2416-genre-orang-bilang-seperti-itu/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Jul 2010 09:25:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>galihusni</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://shout.indonesianyouthconference.org/?p=2416</guid>
		<description><![CDATA[Artikel gue sekarang terilhami dari pertanyaan mudah temen gue ke gue beberapa minggu ke belakang. Saat itu gue sedang jalan-jalan dan menghabiskan waktu dengan secara sampah dan tak ada guna.
Berbincang ngalor-ngidul dan entah apa yang di bicarakan, yang jelas kebanyakan pembahasannya adalah yang jauh dari kata berguna. Sadar atau tidak sadar, ketika perbincangan berlangsung, gue [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Artikel gue sekarang terilhami dari pertanyaan mudah temen gue ke gue beberapa minggu ke belakang. Saat itu gue sedang jalan-jalan dan menghabiskan waktu dengan secara sampah dan tak ada guna.</p>
<p>Berbincang ngalor-ngidul dan entah apa yang di bicarakan, yang jelas kebanyakan pembahasannya adalah yang jauh dari kata berguna. Sadar atau tidak sadar, ketika perbincangan berlangsung, gue dan kedua temen gue mengeluarkan handphone dan mengotak-ngatiknya walaupun ga ada sms atau telpon, hanya sekedar iseng dan itu berbarengan. <span id="more-2416"></span></p>
<p>Setelah pembicaraan stuck, gue keluar mobil, mencoba menghirup udara segar dan sedikit melakukan sedikit peregangan dengan mengguling-gulingkan badan ke aspal jalan dan memberikan minuman obat kuat kepada tukang parkir dekat apotek. Lalu, setelah enakan, gue kembali masuk mobil dan kembali berbincang. Ketika gue memasuki mobil, sayup-sayup terdengar suara vokalis Secondhand Serenade mendayu-dayu, dan kedua temen gue sedang menyanyikan lagu andalan band tersebut. Yes, seketika juga gue mendengarnya, dan ikut bernyanyi walaupun gue ga tau liriknya dan hanya mengeluarkan kata-kata na-na-na.haha. Habis satu lagu, dipindah lagi lagu berikutnya, kembali diperdengarkan lagu yang lumayan lawas, Yellowcard. Selesai Yellowcard menyanyikan lagunya, si temen gue 1 bertanya, ‘Ah, Min, lo anak emo ya?kok lagu-lagunya kaya begituan semua?’. Si temen gue 2 menjawab ‘Yah, gue mah sesuai suasana hati sajalah’. Setelah itu, giliran si temen gue 2 yang memutar lagu yang ada di handphonenya dan bernyanyi alakadarnya. Di playlistnya ada terdapat berbagai macam nama band-band ternama semacam Peterpan, Ungu, ST 12, Kangen Band, Hello Band, Hijau Daun, dan lain sebagainya.</p>
<p>Lalu si temen gue 1 mencoba mengambil handphone gue, dan mencari-cari lagu di handphone gue. Entah apa dan bagaimana, dia mengernyitkan dahi dan mengurutkan telinga dia sesaat setelah dia meminta menstop lagu yang sedang dinikmati temen gue 2 dan lalu mengklik tanda play di handphone gue. Sesaat dia bertanya, ‘Lih, ada lagu lainnya ga selain lagu-lagu aneh ini? Gue kok cuma bisa nikmatin lagunya Efek Rumah Kaca yang Desember doang ya? Itu juga gue ga hafal liriknya. Selera musik lo aneh Lih.’. gue menjawab, ‘ah, sob, itu lagu-lagu sebagian aja kok, karena memory handphone gue dikit.’. terus temen gue 2 nimpalin, ‘Lih, lo mah sok eklusif, lagu-lagunya cuma yang lo tau aja, ga masuk ke telinga gue, lo alirannya apa sih?’ Setelah itu dia melihat list lagu yang ada di handphone gue, terlihat ada tulisan ERK, Cloudroom, The Tingtings, Bjork, Ape On The Roof, The Birds and The Bees, Club 8, Koop, Mocca, The Adams dll. gue jawab lagi, ‘Ah, ga juga kok, lo bisa liat di itunes di laptop gue, gue juga denger kok lagu-lagu yang lo denger. Gue juga denger lagu-lagu nya Peter Pan, Afgan, Ungu, ST 12. Tapi emang kebanyakan, lagu-lagu yang gue lebih sukain, gue masukin ke handphone gue.’ Gue juga nambahin, ‘Lo liat lagi di playlist gue, disitu ada juga kok lagu-lagunya Opick, Raihan dsb. Gue juga denger lagu-lagu lainnya, yah, at least, menurut gue lagu kan buat di nikmatin.’</p>
<p>Sesaat setelah temen gue denger lagunya ERK yang Desember, dia mengembalikan handphone gue dan dia kembali memutar lagu-lagu yang ada di handphonenya. Terdengar suara Afgan mendayu-dayu, dan membuat gue ikutan nyanyi. Haha.</p>
<p>Sekarang, gue berpikir tentang pertanyaan mudah temen gue tadi tentang aliran musik. Kenapa mesti ada pengkotak-kotakan sih? Kenapa kalo lo suka musik rock, ga boleh dateng ke konsernya Incognito misalnya. Pengalaman gue, Java Jazz 2009 kemaren gue menyempatkan diri untuk menikmatinya. Bersama temen gue yang memang menyukai Jazz. Kebetulan gue menonton di hari ketiga ketika Brian Mcknight manggung. Gue sebenernya teramat penasaran di hari itu karena terpampang list artis dengan nama besarnya di stage yang besar yakni Slank. Alhasil, temen gue yang sedang asik menikmati Tompi dan bernyanyi penuh penghayatan, gue menggiring dia dan memaksa untuk ikut menikmati Slank. Gue sebenernya menunggu Slank saat itu akan membawakan lagu apa dan dengan aransemen apa, swing atau jazz crossover. Ternyata kenyataannya lain. Slank tetaplah Slank, dia memainkan lagu-lagunya dengan gaya dan aransemen yang apa adanya dan memang Slank. Dengan bertelanjang dada, Kaka sang vokalis menyanyikan lagu-lagunya dengan gaya rock seperti biasanya. Terdengar gebukan drum dan sabitan gitarnya juga seperti Slank biasa bawakan. Yang menjadikannya beda ialah tempat, acara, embel-embel dan tentu tak terlihat bendera Slankers yang terlihat di venue tersebut. Haha.</p>
<p>Sedikit kecewa, pertama dengan kehadiran Slank di Java Jazz dan penampilan Slank dengan lagu-lagunya yang seperti biasa mereka bawakan. Tetapi, setelah itu, gue menonton David Naif feat. Abdul, dan menikmatinya. Setelah itu gue jadi berpikir, gue terlalu terkungkung dengan pikiran gue yang suka Jazz pasti dateng ke acara Jazz dan menikmati lagu-lagu yang dibawakan begitu kental rasa Jazznya. Begitu juga ketika Lamb of God manggung, gue berpikir kalo yang nonton pasti sangar dan sebagainya.</p>
<p>Ternyata pikiran kita salah, musik, lukisan, karya seni lainnya, atau berbagai macam yang dihasilkan dan dilakukan berbagai macam orang ternyata mestinya bisa dinikmati berbagai kalangan. Jazz yang katanya aliran musik yang hanya bisa dinikmati kalangan berada, tetapi di dalamnya banyak kok band-band yang mewakili minoritas manggung, begitu sebaliknya. Berbagai aspek, banyak memang perbedaan tentang aliran-aliran, agama, ras, dan aspek lainnya termasuk seni. Tetapi gue paham, kalo ternyata segala sesuatunya ialah bagaimana cara kita menikmati dan menghargai karya-karya yang dihasilkan oleh siapapun. Yah, pada akhirnya itu kembali ke selera orang masing-masing, yang memang suka rock seharusnya tidak hanya fanatik terhadap satu genre rock saja, melihat yang lain adalah baik dilakukan sebagai penikmat seni. Yang mengaku emo-kids juga yah, jangan menganggap dirinya dan musiknya lebih dasyat daripada band-band macam Hijau Daun atau Kangen Band, karena apa bedanya, liriknya sama-sama cengeng kok. Penggemar Jazz juga, bukan berati mereka yang berkalangan atas saja yang bisa menikmati musiknya, tetapi segala kalangan. Kaum yang menyebut dirinya Mods dan lain sebagainya, cobalah masuk dan dengar musik lainnya, sebagai referensi. Yah, saling menghormati saja kalau memang pengkotak-kotakan itu sulit dihapus. Dan berkarya secara jujur dan berkualitaslah yang menjadikan sesuatu di bilang BIG THING.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://shout.indonesianyouthconference.org/article/galihusni/2416-genre-orang-bilang-seperti-itu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Musik Indonesia.</title>
		<link>http://shout.indonesianyouthconference.org/article/galihusni/2414-musik-indonesia/</link>
		<comments>http://shout.indonesianyouthconference.org/article/galihusni/2414-musik-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Jul 2010 09:22:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>galihusni</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://shout.indonesianyouthconference.org/?p=2414</guid>
		<description><![CDATA[Saya tertarik pada isu atau berita tentang perkembangan music indie Indonesia. Orang Indonesia terkadang bahkan sering kagum dan fanatic secara berlebihan terhadap musisi dan music luar negeri. Mereka sering rela untuk mengantri bahkan berteriak histeris ketika artis kesukaannya datang dan konser. Tapi, musisi Indonesia sendiri kurang di apresiasi oleh masyarakat.
Memang, apresiasi muncul kepada musisi major, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya tertarik pada isu atau berita tentang perkembangan music indie Indonesia. Orang Indonesia terkadang bahkan sering kagum dan fanatic secara berlebihan terhadap musisi dan music luar negeri. Mereka sering rela untuk mengantri bahkan berteriak histeris ketika artis kesukaannya datang dan konser. Tapi, musisi Indonesia sendiri kurang di apresiasi oleh masyarakat.<span id="more-2414"></span></p>
<p>Memang, apresiasi muncul kepada musisi major, mereka telah di-industrialisasi oleh label. Kebanyakan musisi sekarang adalah musisi satu lagu booming, lalu mati setelah itu. Cuma untuk mengejar pasar saja, dan tidak mempunyai musikalitas yang bagus. Mereka cenderung musisi instant. Berbeda dengan musisi indie Indonesia, mulai dari pengerjaan album, distribusi, dan konser, mereka membuat sendiri. Hasilnya? Mereka yang idealis, tentunya puas dengan karya mereka, dan mereka mendapat apresiasi dan penghargaan dari luar negeri. Kerap mereka diundang konser di luar negeri. Sebagai contoh adalah SORE Band, mereka dinobatkan sebagai band dengan musikalitas tinggi oleh majalah TIMES. White Shoes And The Couples Company, The SIGIT, Mocca, Burgerkill juga kerap kali konser di luar negeri. Bahkan, lagu-lagu dari Mocca menjadi soundtrack dan jingle iklan di korea. Ini membuktikan kalau musisi Indonesia berkualitas.</p>
<p>Musisi jazz Indonesia juga mereka mempunyai kemampuan tidak kalah hebat dengan musisi luar negeri. Mereka mempunyai skill dan karya yang keren. Contohnya adalah Java Jazz Festival, musisi jazz dalam negeri tidak kalah hebat dengan musisi luar negeri. Bahkan mereka diajak untuk kolaborasi. Dan itu membuktikan kalau musisi Indonesia sangat bermutu.</p>
<p>Namun, dukungan dari pemerintah saya rasa kurang, pemerintah terkadang mempersulit izin penyelenggaraan konser. Apalagi konser band-band beraliran rock atau underground. Pemerintah nampaknya trauma karena kejadian konser-konser rock sebelumnya, sering terjadi kerusuhan dan bahkan berujung kematian. Tetapi berbeda sekarang. Penonton konser di Indonesia sudah dewasa, sudah bisa berperilaku tertib. Pemerintah juga seharusnya memberikan pelayanan dan mendukung untuk perkembangan musisi Indonesia dengan membangun gedung pertunjukkan berskala internasional, ini akan menghasilkan devisa bagi Negara dan daerah. Ini juga bisa menjadikan Indonesia sebagai pusat kebudayaan di dunia. Indonesia mempunyai aset banyak untuk berkembang.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://shout.indonesianyouthconference.org/article/galihusni/2414-musik-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>My idea : Festival Kebudayaan Indonesia</title>
		<link>http://shout.indonesianyouthconference.org/article/muthiahi/2418-my-idea-festival-kebudayaan-indonesia/</link>
		<comments>http://shout.indonesianyouthconference.org/article/muthiahi/2418-my-idea-festival-kebudayaan-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 Jul 2010 11:35:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muthia Huda</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://shout.indonesianyouthconference.org/?p=2418</guid>
		<description><![CDATA[Gak apa-apa kalau para pembaca bilang ini terdengar bodoh. Tapi bukankah kita punya hak untuk mengemukakan buah pikiran kita?   Jadi daripada tersembunyi di dalam kepala,kan percuma juga. Lebih baik ditulis di sini. Hehe.
ps : maaf ya kalau ide ini ternyata udah ada. Tapi perasaan di Bandung gak ada.
Semakin hari masyarakat Indonesia terpengaruh dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Gak apa-apa kalau para pembaca bilang ini terdengar bodoh. Tapi bukankah kita punya hak untuk mengemukakan buah pikiran kita? <img src='http://shout.indonesianyouthconference.org/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  Jadi daripada tersembunyi di dalam kepala,kan percuma juga. Lebih baik ditulis di sini. Hehe.</p>
<p>ps : maaf ya kalau ide ini ternyata udah ada. Tapi perasaan di Bandung gak ada.<span id="more-2418"></span></p>
<p>Semakin hari masyarakat Indonesia terpengaruh dengan kebudayaan barat. Dan itu membuat Indonesia semakin kehilangan kebudayaannya sedikit demi sedikit.</p>
<p>Aku sendiri jadi merasa gatal sendiri. Kebudayaan Indonesia itu sebenarnya akan lebih bagus jika kita lestarikan. Apalagi Indonesia itu kaya dengan kebudayaannya yg beragam. Sayang kalau akhir-akhirnya semua kebudayaan itu hilang hanya karena pengaruh dari kebudayaan barat.</p>
<p>Idepun muncul. Rasanya aku ingin Indonesia menyelenggarakan festival kebudayaan untuk mengingatkan masyarakat akan apa yg Indonesia punya. Festival itu lebih baik diadakan setiap tahun. Lalu negara tetanggapun harusnya diundang juga untuk datang ke festival kebudayaan tersebut. Agar mereka tahu kebudayaan Indonesia. Agar mereka lebih yakin kalau Indonesia itu sangat kaya dengan kebudayaan yg beragam. Dan sebaiknya festival itu diadakan di setiap kota. (Jadi setiap tahun,festival akan diadakan di berbeda kota secara bergilir. Jadi kesannya lebih adil daripada hanya diadakan di Pulau Jawa.) Festival itu diadakan di lapangan yg luas. Yang bisa memuat banyak stand dan satu panggung luas. Festival itu juga dihiasi dengan design yg prof tapi Indonesian.</p>
<p>Di festival itu,semua kebudayaan Indonesia dipajang dan ditunjukkan. Seperti makanan-makanan khas Indonesia,tari-tari Indonesia,lagu-lagu daerah indonesia,dan bahasa-bahasa Indonesia yg tak kalah menariknya. Dan lain-lain. <img src='http://shout.indonesianyouthconference.org/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Tiket masuknya mungkin berapa puluh rupiah. (Kalau terlalu mahal,kasihan masyarakat yg kurang mampu.).</p>
<p>Oh iya,festival berlangsung selama beberapa hari.</p>
<p>Mungkin biaya pembuatannya sangat mahal. Tapi apa salahnya mencoba? Barang kali ini akan menjadi sesuatu yg terkenal dari Indonesia. Ini juga membantu mempromosikan kebudayaan Indonesia sendiri. Dan sekaligus memberi tahu negara lain tentang kebudayaan Indonesia yg sebenarnya. Menarik dan unik.</p>
<p>Saya harap artikel ini bisa dibaca oleh banyak orang. Jadi ide saya bisa benar-benar menjadi nyata. Hehe.</p>
<p>Maaf jika ada yg salah. Saya hanya menggunakan hak KMP saya. Terima kasih-</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://shout.indonesianyouthconference.org/article/muthiahi/2418-my-idea-festival-kebudayaan-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tips Dalam Menghadapi Permasalahan Belajar</title>
		<link>http://shout.indonesianyouthconference.org/article/ningenis/2387-tips-dalam-menghadapi-permasalahan-belajar/</link>
		<comments>http://shout.indonesianyouthconference.org/article/ningenis/2387-tips-dalam-menghadapi-permasalahan-belajar/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 12 Jun 2010 13:26:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ningenis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://shout.indonesianyouthconference.org/?p=2387</guid>
		<description><![CDATA[Ada berbagai cara dalam menghadapi permasalahan belajar, diantaranya:
1. Ciptakan suasana yang kondusif di tempat Anda belajar, baik itu di rumah, di sekolah, ataupun di manapun Anda belajar.
2. Peduli terhadap permasalahan belajar.
3. Berusaha untuk mengetaskan permasalahan belajar.
4. Tumbuhkan motivasi dalam diri Anda
5. Anda sebagai pelajar haruslah sadar bahwa Anda memiliki tugas sebagai pelajar dan mau melaksanakannya.
6. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ada berbagai cara dalam menghadapi permasalahan belajar, diantaranya:</p>
<p>1. Ciptakan suasana yang kondusif di tempat Anda belajar, baik itu di rumah, di sekolah, ataupun di manapun Anda belajar.</p>
<p>2. Peduli terhadap permasalahan belajar.</p>
<p>3. Berusaha untuk mengetaskan permasalahan belajar.<span id="more-2387"></span></p>
<p>4. Tumbuhkan motivasi dalam diri Anda</p>
<p>5. Anda sebagai pelajar haruslah sadar bahwa Anda memiliki tugas sebagai pelajar dan mau melaksanakannya.</p>
<p>6. Tirulah keteladanan seseorang dalam belajar.</p>
<p>7. Buang rasa malas dalam diri Anda.</p>
<p>8. Tambahkan semangat belajar dalam diri Anda.</p>
<p>9. Hindari sikap dan kebiasaan buruk dalam belajar.</p>
<p>10. Tumbuhkan minat belajar dalam diri Anda.</p>
<p>11. Ikutlah dalam Bimbingan Belajar ataupun Kelompok Belajar.</p>
<p>12. Selesaikanlah masalah belajar dalam diri Anda, jika tidak bisa, maka mintalah bantuan pada Orang Tua maupun Teman Anda ataupun Guru.</p>
<p>dan masih banyak lagi tips-tips lainnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://shout.indonesianyouthconference.org/article/ningenis/2387-tips-dalam-menghadapi-permasalahan-belajar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
